Menguji Nostalgia Sejarah pada Pilgub Jatim

Oleh, M. Muhlisin Al Ayubi

Tiga bulan menuju pemilihan pilgub Jatim adalah waktu yang singkat, evaluasi dan rencana kerja pemenangan kedua pasangan semakin kompleks. Mundurnya Anas menjelang pendaftaran digantikan Puti menjadi salah satu diantara drama politik Jawa Timur. Kehadiran Puti melahirkan jargon politik baru sebagai variasi untuk mempengaruhi perilaku pemilih. Pertemuan cicit pendiri NU dan cucu Presiden pertama Indonesia dapat dilihat sebagai nostalgia sejarah yang coba dinarasikan dalam strategi pemenangan. Pasangan ini sarat nuansa sejarah perjuangan Bangsa Indonesia yang berbeda dengan pasangan Khofifah Emil. Kapitalisasi spirit nostalgia sejarah ini memiliki konsekuensi positif dan negatif, karena semua bertumpu kepada motif warga memilih pemimpinnya.

Dalam perspektif dramaturgis Erving Goffman (1955) ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya. ia ingin mengelola pesan yang sesuai dengan harapan disebut juga pengelolaan pesan”(impression management). Pandangan ini cukup untuk menggambarkan narasi nostalgia sejarah NU dan PDIP pada pasangan Gus Ipul-Puti, namun tidak cukup representatif untuk menggambarkan perilaku pemilih. Pengelolaan pesan lepas dari harapan dan kebutuhan dasar pemilih kebanyakan, sehingga narasi sejarah yang disampaikan menjadi minor dan sulit mengangkat suara elektoral.
Penyampaian pesan sejarah perjuangan melalui Gus Ipul-Puti merupakan hal wajar dalam strategi pemenangan.

Namun, menjadikan sejarah sebagai narasi dominan diantara program lain menjadi kurang tepat. Sebab yang harus diperhatikan adalah bagaimana membangun persepsi positif dan menyelaraskan dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, Keputusan dalam strategi pemenangan tanpa memahami komposisi yang diinginkan pemilih akan kehilangan arah. Dalam hal ini, nostalgia sejarah diragukan menjadi isu sentral dalam mempengaruhi pemilih.

Menjadikan Puti sebagai pendamping Gus Ipul pada pentas politik Jatim adalah langkah berani yang dilakukan PDIP. Keterpilihan Puti sebagai anggota DPR RI justru berangkat dari Jawa Barat. Situasi ini akan berdampak serius terhadap popularitas dan elektabilitas Puti di Jawa Timur. Walau demikian, keberadaan Puti tidak bisa dipandang sebelah mata karena naluri politik Soekarno mengalir dalam darahnya. Disadari atau tidak Puti akan menjadi simpul kekuatan baru untuk menyatukan perbedaan di internal PDIP. Sehingga sangat mungkin konsolidasi tim pemenangan PDIP menjadi solid dengan satu komando.

Bagi PDIP dan simpatisan tentu nostalgia sejarah dapat terinternalisasi dengan baik. Namun, menjadi pertanyaan serius ketika narasi tersampaikan kepada sekitar tiga puluh juta pemilih. Apakah akan memiliki dampak elektoral atau sebaliknya. Mengintip hasil survei Indikator Politik Indonesia (INDIKATOR) pada awal bulan Mei 2017 menunjukkan bahwa indikator utama yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah jujur/bersih dari korupsi yaitu sekitar 47 persen, indikator kedua adalah perhatian pada rakyat sebesar 31 persen.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa alasan utama warga memilih pemimpin adalah karena terbukti hasil kerjanya. Selain itu, orangnya tegas/berwibawa dan berpengalaman di pemerintahan. Walaupun tidak secara khusus menguji narasi sejarah dengan perilaku pemilih. Satu hal yang bisa dibaca dari hasil jajak pendapat tersebut bahwa perilaku pemilih selalu bermuara pada bukti jejak kepemimpinan. Dengan bahasa yang berbeda, tidak ditemukan kesesuaian antara narasi yang disampaikan dengan harapan yang melekat pada masyarakat.

Narasi Pemilih adalah Kebutuhan Dasar

Beberapa kali pilkada menjadi pengalaman penting bagi pemilih. Keputusan menentukan siapa yang dianggap paling sesuai adalah mutlak hak warga. Perilaku pemilih lebih dominan melihat kepada figur dan kapasitas dalam kepemimpinan. Dua kali perhelatan pilgub Jatim tahun 2008 dan 2013 cukup bagi pemilih untuk menilai kedua pasangan yang maju. Partai politik tidak mampu memobilisir perilaku pemilih, terbukti partai pemenang selalu kalah dalam kontestasi. PDIP dan PKB sebagai pemenang kalah dengan pasangan yang di usung oleh partai Demokrat.

Fakta sejarah di atas penting dijadikan evaluasi. Setidaknya mengabarkan bahwa partai yang mengusung kader ideologis sulit bersaing dengan figur lain. PDIP yang mengusung kader ideologis Sutjipto (2008) dan Bambang DH (2013) tidak mampu memenangkan kontestasi. Perilaku pemilih berdasarkan ideologi tidak menjadi faktor utama dalam menentukan pemimpin, melainkan integritas dan kapasitas figur yang menjadi pertimbangan utama. Perilaku pemilih hari ini sangat fleksibel tergantung kepada track record figur. Selain itu, narasi yang diinginkan pemilih sangat dekat dengan keseharian mereka, yaitu masalah kebutuhan pokok, masalah pengangguran, pertumbuhan ekonomi, insfrastruktur dan sejenisnya.

Begitu juga ketika pemilihan Presiden Indonesia. Megawati dua kali kalah melawan Susilo Bambang Yudhoyono. Pertama, Megawati berpasangan dengan Kiyai Hasyim Muzadi dan yang kedua berpasangan dengan Prabowo Subianto. Dalam konteks Pilgub Jawa Timur, dua kali kekalahan PDIP pada Pilpres tersebut memang tidak bisa dikorelasikan. Namun, setidaknya satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa Megawati adalah keturunan langsung Soekarno selaku Presiden pertama RI. Oleh karena itu, menjadi minor atau tidak realistis untuk mengatakan bahwa kehadiran Puti akan memiliki dampak elektoral.

Cerita di atas, ingin mengatakan bahwa narasi sejarah memang bagus bagi mereka yang memiliki ikatan emosional, namun tidak akan cukup memberi efek dominan terhadap perilaku pemilih di Jawa Timur. Justru, keberadaan Puti lebih bisa diterima sebagai cek son terhadap konsolidasi internal untuk Pilpres tahun 2019. Oleh karena itu, untuk memenangkan Pilgub Jatim diperlukan narasi yang lebih realistis terhadap kebutuhan masyarakat saat ini.

Pasangan Gus Ipul-Puti patut terus mensolidkan dan bekerja keras melakukan sosialisasi bersaing dengan pasangan Khofifah-Emil dengan narasi kemiskinan dan pembangunan pariwisata. Alam demokrasi mempersilahkan apapun narasi yang disampaiakan. Siapapun yang terpilih adalah yang terbaik dan semua dikembalikan kepada pemilik suara.#

*Pemerhati masalah Opini Publik, Sosial dan Politik
Peneliti di Lembaga Survei Indonesia Area Jawa Timur
Komentar