Beri Layanan Kesehatan ke Warga Pulau Terpencil

Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga

Ruang operasi di RS Terapung Ksatria Airlangga

KANALSATU – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau terpencil yang masih kesulitan menjangkau akses kesehatan. Keberadaan Rumah Sakit terapung Ksatria Airlangga bisa menjadi jawaban agar mereka yang ada di pulau-pulau terpencil bisa merasakan layanan kesehatan dengan baik.

Wakil Direktur Pelayanan dan Pemeliharaan Kapal, dr Henry Wibowo mengatakan RS terapung Ksatria Airlangga mengambil bentuk Kapal Phinisi yang merupakan kapal kebanggaan Indonesia dan sudah dikenal ketangguhannya mengarungi samudera di dunia. Kapal yang menghabiskan anggaran Rp 1 miliar tersebut dibuat di Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan.

Dana tersebut belum termasuk untuk peralatan sehingga kapal tersebut layak menjadi sebuah rumah sakit. ”Kalau dengan alat-alatnya, biayanya sekitar Rp 4 miliar,” ujar Henry yang juga seorang spesialis andrology ini ketika ditemui di Pelabuhan Kalimas, Tanjung Perak, Surabaya, Minggu (11/3/2018).

Kapal berwarna putih dengan layar biru tersebut memiliki fasilitas dua kamar operasi, ruang pulih sadar, ruang sterilisasi, ruang ganti, gudang obat, laboratorium, dapur, kamar tim medis dan ruang pengemudi.

Untuk pertama kalinya, RS Terapung Ksatria Airlangga melakukan pelayanan kesehatan di Bawean pada Oktober tahun lalu dan menanganii 449 pasien yang 59 orang diantaranya menjalani operasi bedah dan 43 lainnya operasi mata. Pada bulan berikutnya dilakukan juga pelayanan di Pulau Kangean, Sumenep.

Pasiennya mencapai 1.050 orang. 65 orang menjalani operasi bedah dan kandungan serta 137  orang menjalani operasi mata. ”Bahkan di Kangean ini kami membantu persalinan yang diantaranya juga ada yang operasi Caesar,” ujarnya.  

Dituturkan Henry, selama dua kali melakukan pelayanan di pulau-pulau terpencil, ada banyak cerita dari masyarakat yang mengharukan. Di Kangean, tidak sedikit penduduk yang hidup dengan benjolan struma maupun hernia mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kebanyakan dari mereka tidak pergi berobat ke Sumenep atau Surabaya karena alasan biaya yang besar dan waktu tempuh yang sangat lama.

Sebelum tim medis dengan dokter-dokter spesialis tiba di pulau tersebut, sebelumnya ada tim advance yang melakukan pemetaan kondisi kesehatan masyarakat di pulau tersebut. ”Jadi dokter ahli dan tim medis yang kita bawa sesuai dengan kebutuhan masyarakat di sana,” ujarnya.  

Setelah Pulau Bawean dan Kangean, berikutnya kapal ini dijadwalkan akan berlayar ke Pulau Sapeken pada akhir Maret mendatang. Pemilihan waktu juga penting untuk mewaspadai ombak tinggi yang akhir-akhir ini kerap terjadi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kohar Hari Santoso menambahkan, keberadaan rumah sakit terapung yang diinisiasi Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini merupakan penguatan layanan kesehatan. ”Dengan kapal ini, masalah-masalah di daerah bisa teratasi,” tutur Kohar.
(KS_5)

Komentar