PBSI Jatim Gerbong Wijanarko Tak Pernah Prestasi

logo

KANALSATU – Raport merah buat kepengurusan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jatim.  Sejak dipilih dan dilantik tahun 2014 lalu, hingga 2018 bulan depan berakhirnya gerbong Oei Wijanarko Adi Mulya, tak pernah menorehkan prestasi bagi Jatim.

“Prestasi atlet mengalami penurunan, dibawah kepemimpinan Wijanarko. Selama empat tahun, tidak ada prestasi yang membanggakan," kata pengamat bulutangkis, Yacob Risdianto, dalam diskusi bulutangkis Jatim, di Surabaya, Kamis (01/03/2018).

Menurutnya, selama empat tahun menjabat ketua Pengprov PBSI Jatim, tidak pernah menorehkan prestasi gemilang di berbagai even nasional. "Kita tidak menghakimi yang salah. Tapi, jika melihat kondisi yang ada, kita prihatin,” kritik Yacob.

Ia menjlentrehkan, keberhasilan pengprov terletak pada ujung tombaknya klub. Dari keluhan yang disampaikan oleh klub-klub, mereka merasakan tidak ada kepedulian dari pengprov. Termasuk, perhatian terhadap klub yang akan terjun di kejurnas.

"Kalau tak ada kepedulian terhadap klub apa jadinya. Bagaimana klub bisa hidup dan prestasi meningkat kalau tak ada perhatian dari pengprov," ujarnya.

Secara terus terang, mantan Sekjen PB PBSI ini rindu akan kejayaan bulutangkis Jatim beberapa tahun silam. Dulu Jatim mampu melahirkan juara olimpiade, seperti Alan Budi Kusuma, Tri Kusharyanto dan Dwi Sonny Kuncoro.

Hal senada dikatakan pemilik klub Fifa Sidoarjo, Thoriq. Dia prihatin dengan kondisi di tubuh pengprov PBSI Jatim. Selama empat tahun terakhir, tidak ada prestasi yang membanggakan ditorehkan oleh pebulutangkis Jatim.

Lebih prihatin lagi, kata dia banyak pebulutangkis Jatim yang pindah ke klub lain. Mereka lebih suka berlatih di luar katimbang di daerahnya sendiri, sehingga prestasinya lebih bagus.

Menurunnya prestasi pebulutangkis Jatim ini akan berimbas pada rangking Jatim di PBSI. Jika sampai terdegrasi ke divisi 2, akan membuat malu nama besar Jatim yang sempat mendapat julukan sebagai gudangnya atlet nasional.

Selain Yacob dan Thoriq, diskusi kecil ini juga menghadirkan nara sumber Fery Stewart (klub Suryanaga), Edy Sabarudin (Binpres PB PBSI) dan dewan pakar PBSI Jatim Bachrul Amiq. (ks-6)

Komentar