Pemenang Pilgub Jatim representasi Pemilu 2013

Oleh, M. muhlisin Al Ayubi

Perebutan kursi Jatim 1 pada tahun politik ini (2018) merupakan ajang ketiga bagi Khofifah Indar Parawansa setelah pada tahun 2008 dan 2013 selalu berada di urutan kedua. Sementara, Saifullah Yusuf sebagai Petahana dua periode mendampingi Soekarwo juga merupakan ketiga, namun kali ini maju memperebutkan Jatim 1.

Peta kekuatan pada tahun 2013 tentu tidak bisa dipandang sebagai sejarah tanpa memiliki nilai untuk menentukan langkah strategis bagi calon terutama parpol pengusung. Pasangan Soekarwo - Saifullah Yusuf (KarSa) dalam pilgub 2013 adalah representasi yang sesuai karakter Jawa Timur, Soekarwo sangat dekat dengan figur Mataraman sedangkan Saifullah Yusuf lebih dekat dengan santri.

Kalkulasi ini akan dihitung betul sebagai evaluasi dan pembacaan terhadap potensi bagaimana memenangkan kontestasi, sekaligus sebagai tes awal parpol untuk menghadapi pilpres tahun 2019.

Khofifah dan Gus Ipul adalah kader terbaik NU yang pada pemilu 2013 berbagi suara sama rata di daerah yang secara kultural sangat dekat dengan tradisi NU, dari 18 Kabupaten/Kota, 9 di dominasi Pasangan Soekarwo - Saifullah Yusuf (KarSa), sementara 9 Kabupaten/Kota lainnya dikuasai pasangan Khofifah - Herman (Berkah). Perilaku pemilih warga NU pada gelaran pilgub Jatim tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan pemilihan sebelumnya, kedua tokoh tersebut memiliki basis yang sama.

Begitu juga dengan keberpihakan Kiyai yang terpolarisasi kepada Gus Ipul dan Khofifah, tentu hal ini akan disikapi secara positif oleh masing - masing pendukung. Pada akhirnya pertarungan terpenting untuk mengambil suara pemilih adalah pada wilayah mataraman, terbukti pemenang Pilgub Jawa Timur tahun 2013 sangat ditentukan di daerah ini, dari 20 daerah yang lekat dengan mataraman 18 Kabupaten/Kota didominasi oleh pasangan Soekarwo - Saifullah Yusuf (KarSa), 2 Kabupaten yaitu Mojokerto dan Blitar dikuasai pasangan Khofifah - Herman (Berkah). Menjadi menarik untuk melihat magnet apa yang mampu menyatukan suara di daerah mataraman?

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur adalah salah satu yang menarik, terutama sebelum ada kegaduhan politik menjelang pendaftaran. Dua pasangan yang muncul beberapa minggu sebelum pendaftaran yaitu Khofifah Indar Parawansa - Emil Elistianto Dardak dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) — Abdullah Azwar Anas (Anas) merupakan pertarungan lama yang terulang kembali dengan narasi yang lebih dinamis terutama pada wakilnya. Kesimpulan dari beberapa lembaga survei menunjukkan bahwa perolehan jajak pendapat masih dalam margin error artinya kedua pasangan memiliki peluang yang sama untuk memenangkan pemilu. Situasi ini berubah total saat Anas menyatakan mundur, kerja dan konsolidasi pemenangan Gus Ipul semakin berat, kontestasi menjadi sedikit hambar.

Anas mundur sebagai calon wakil Gubernur Jatim membuat banyak kalangan kaget, dari banyak survei dan opini publik Anas dianggap pilihan cerdas untuk menaikkan elektabilitas Gus Ipul. Situasi ini cukup berat untuk dikatakan sebagai strategi. Justru ini adalah pukulan telak pertama di internal dan sebagai langkah mundur yang sangat dihindari oleh pasangan manapun.

Munculnya Puti Guntur Soekarno (Puti) sebagai calon wakil Gubernur mendampingi Gus Ipul tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Popularitas dan Elektabilitas Puti sebagai politisi masih jauh dibanding Anas, terutama bagi masyarakat Jatim.

Perilaku Pemilih: Tokoh dan Partai Politik Pengusung

Dua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur resmi mendaftar di KPU Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa - Emil Elistianto Dardak didukung oleh Partai Demokrat, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP dan PAN (42 kursi). Sementara Saifullah Yusuf - Puti Guntur Soekarno didukung PKB, PDIP, PKS dan Gerindera (58 kursi). Kekuatan partai cukup berimbang dengan tidak adanya poros baru yang sejak awal diharapkan ikut mewarnai pilgub Jawa Timur.

Partai Politik menjadi instrumen penting untuk memajukan siapa calon yang layak di usung, tetapi menjadi instrumen yang lemah untuk memenangkan calon. Logika ini terbangun dari hasil banyak survei dan pelaksanaan pilkada bahwa pilihan terhadap partai politik tidak selalu linear dengan pilihan terhadap calon. Pilgub Jatim tahun 2008 dan 2013 dimenangkan pasangan Soekarwo - Saifullah Yusuf yang di usung Partai Demokrat mengalahkan partai pemenang di Jawa Timur. Fenomena ini patut dijadikan evaluasi strategi pemenangan diinternal partai termasuk dalam proses kaderisasi yang sejalan dengan kepentingan masyarakat.

Peluang memenangkan kontestasi sejauh ini memang tidak ditentukan seberapa besar dukungan dan mesin politik partai. Justru perilaku pemilih di Jawa Timur lebih melihat kinerja, siapa yang maju dan siapa yang mendukung. Khofifah dan Gus Ipul tentu memiliki kemampuan yang teruji, berpengalaman dan memiliki basis yang sama. Perebutan suara pemilih akhirnya berada di daerah mataraman, hal ini berkaca pada pilgub 2013 yang dimenangkan oleh Soekarwo - Saifullah Yusuf. Pada pilgub 2013 sosok figur Soekarwo inilah yang menjadi magnet dukungan suara mataraman, yang sangat dimungkinkan juga dapat memberi dampak elektoral dalam pilgub tahun ini.

Demokrat sebagai salah satu pendukung Khofifah membuat Soekarwo sebagai Ketua DPD Demokrat Jawa Timur harus mendukung pilihan partai. Keberadaan Soekarwo tentu sangat diperhitungkan, hal ini akan berdampak positif terhadap konsolidasi tim dan positif secara elektoral terutama di daerah mataraman. Sementara Gus Ipul belum terlihat memiliki figur pendukung yang bisa mewakili wilayah mataraman, walaupun didukung oleh PDIP. Sejauh ini belum ada tokoh PDIP yang mampu mengimbangi figur Soekarwo di daerah mataraman, tentu ini membuat kerja pemenangan Gus Ipul semakin berat.

Kembali pada pilgub 2013, Justru posisi Gus Ipul sebagai calon wakil Soekarwo adalah bagian dari strategi untuk memecah suara Khofifah dikalangan warga NU yang hari ini tidak dimiliki sehingga kolaborasi strategi Gus Ipul pada dua kultur yang berbeda menjadi lemah. Tidak berlebihan ketika muncul pendapat bahwa pemenang pemilu kali ini akan ditentukan oleh pasangan yang merepresentasikan tradisi NU dan kultur mataraman serta siapa figur pendukung, dengan kata lain pemenang pilgub tahun ini adalah duplikasi pemenang pilgub tahun 2013. Wallahualam ***

M. Muhlisin Al Ayubi
Pemerhati masalah Opini Publik, Sosial, Ekonomi dan Politik
Peneliti di Lembaga Survei Indonesia Area Jawa Timur
Komentar