Beras masih menjadi pendorong inflasi Jatim

KANALSATU – Jawa Timur mengalami inflasi cukup tinggi pada Bulan Desember 2017 yaitu sebesar 0,71 persen. Inflasi terjadi di sembilan kota pemantauan IHK (Indeks harga Konsumen) yang ada di provinsi ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono mengatakan tingginya laju inflasi di Jatim dipicu karena kenaikan harga komoditas dari kelompok bahan makanan. ”Kelompok bahan makanan mengalami inflasi tertinggi yaitu 2,69 persen,” ujar Teguh saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) di Surabaya, Selasa (2/1/2018).

Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi adalah beras, telur ayam ras dan daging ayam ras.

”Karena menjelang akhir tahun dan perayaan hari besar agama, harga beberapa bahan pokok mulai merangkak naik, harga beras yang masih terus naik menjadi faktor utama terjadinya inflasi. Faktor permintaan beras yang tinggi ditambah jumlah pasokan yang sedikit berkurang menjadi salah satu sebab naiknya harga beras,” tutur Teguh.

Selain beras, kata Teguh, komoditas lain yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah telur ayam ras dan daging ayam. Menurutnya, komoditas tersebut menjadi trend musiman setiap tahun, yang memiliki kecenderungan untuk mengalami kenaikan harga di setiap akhir tahun.

Sementara untuk komoditas yang menghambat terjadinya inflasi adalah emas perhiasan, udang basah, dan melon.

”Pada Desember 2017, harga beberapa buah-buahan masih mengalami penurunan sehingga mampu menjadi penghambat inflasi. Selain tiga komoditas utama pendorong inflasi itu tadi, komoditas lain yang mendorong inflasi ialah tarif kereta api, tarif angkutan udara, mujair, tomat sayur, wortel, cabai merah, dan cabai rawit. Kalau yang penghambat inflasi seperti apel, batu bata, bawang merah, besi beton, pepaya, anggur, dan bawang putih,” jelas dia.(KS-5)

Komentar