Bukan Hanya Prestasi, Tapi Juga Modal Sosial

Bedah Program Olahraga

la nyalla mattalitti

KANALSATU - Berbicara olahraga harus dalam dua koridor. Yang pertama koridor olahraga prestasi. Yang kedua, koridor olahraga sebagai modal sosial. Kedua koridor ini penting. Prestasi mengukir sejarah dan meninggalkan legacy. Sedangkan modal sosial berkaitan langsung dengan kesehatan warga. Warga yang sehat, berbanding lurus dengan produktifitas dan keunggulan.

Pertama kita bedah olahraga prestasi. Seperti halnya negara-negara maju yang mulai menentukan prioritas cabang olahraga, Jatim juga harus berani menentukan skala prioritas. Cabang olahraga prestasi apa yang harus digelontor pembiayaan lebih.

Dari data KONI Jatim, selama ini ada lima cabang olahraga yang menjadi lumbung emas. Baik di tingkat nasional maupun internasional. Yakni, panahan, menembak, balap sepeda dan renang. Serta yang potensial menyusul, gulat, wushu dan karate.  Tentu diikuti cabang-cabang olahraga lainnya yang menjadi penambang perak dan perunggu.

Prioritas ini harus diimbangi dengan standarisasi infrastruktur. Mulai dari tempat latihan untuk kesinambungan pembinaan dan kaderisasi. Hingga venue pertandingan standar internasional. Sehingga Jatim berpotensi menjadi tuan rumah dalam skala apapun. Cabang olahraga yang potensial harus mendapat perhatian lebih. Sehingga tidak muncul lagi problem pembajakan atlit oleh provinsi tetangga. 

Lantas bagaimana dengan cabang lain yang tidak potensial? Tentu tetap dilakukan pembinaan. Tetapi KONI dan pengurus cabang harus membuat roadmap waktu, di tahun berapa cabang tersebut akan menorehkan prestasi. Roadmap itu pun harus diuji, sebelum diputuskan untuk disupport total oleh pemerintah.

Sedangkan, olahraga sebagai modal sosial harus dilakukan dengan kembali mengedukasi masyarakat di semua lapisan untuk berolahraga. Untuk hidup sehat. Literatur abadi tentang di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, harus digelorakan. Termasuk slogan kita dahulu, memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Ini bukan kuno, meskipun kita ada di jaman now. Tetapi slogan itu abadi dan fundamental.

Hanya saja harus diikuti dengan ketersediaan ruang publik bagi masyarakat untuk berolahraga dan hidup sehat. Setiap kota dan kabupaten harus dan mutlak menyediakan ruang terbuka hijau sebagai sarana olahraga masyarakat. Harus ada ruang bebas polusi. Atau minimal jauh dari polusi. Dan ruang-ruang itu tidak harus terkosentrasi di suatu tempat. Tetapi harus tersebar. Di setiap sudut kawasan. Di setiap kawasan hunian. Di setiap kelurahan.  

Ini adalah investasi masa depan. Karena kesehatan warga adalah modal sosial. Kita juga harus mendukung lahirnya komunitas-komunitas olahraga. Lahirnya tempat dan fasilitas fitness. Termasuk sekolah-sekolah sepakbola atau dojo untuk anak-anak usia sekolah dasar. Karena semua itu adalah perangkat pendukung. Jangan dipandang sebelah mata. Karena kesehatan akan semakin mahal.

Pemerintah wajib memberikan apresiasi, bukan saja kepada atlit dalam olahraga prestasi, tetapi juga kepada pegiat dan masyarakat yang memberi andil lahirnya generasi sehat. Termasuk perhatian kepada perguruan-perguruan silat dan klub-klub sepakbola amatir. Karena mereka memberi kontribusi kepada lahirnya generasi muda sehat, yang juga memiliki potensi untuk mengukir prestasi. (ks-6)

Komentar