Mencari cara tepat hadapi krisis migas

Oleh Lutfil Hakim

KANALSATU – Persoalan besar yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya adalah masalah ketahanan energi nasional. Ancaman krisis energi kian hari kian nampak wajahnya. Besarnya konribusi sektor minyak dan gas (migas) terhadap ketahanan energi secara umum semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, produksi dan cadangan migas nasional tren-nya terus menurun. Mengembangkan energi alternatif adalah keniscayaan. Namun terus melakukan pencarian cadangan baru migas dan menggenjot produksinya adalah determinant.

Gap antara konsumsi dan produksi minyak bumi semakin besar dari tahun ke tahun. Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan perusahaan migas global, BP, pada tahun 2016, konsumsi minyak bumi di Indonesia sebesar 1,615 juta barel per hari. Sementara itu, data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat rata-rata produksi minyak bumi Indonesia pada 2016 sebesar 825 ribu barel per hari. Pada di tahun 2006, produksi minyak nasional masih di atas satu juta barel per hari.

Sedangkan gas bumi, sejauh ini pasokannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hanya saja, lapangan gas umumnya berlokasi jauh dari pusat industri yang menggunakan gas. Infrastruktur penerima gas (pipanisasi dan storage tank timbun) juga belum banyak dipunyai di Indonesia, sehingga tidak semua gas bisa terserap.

Namun, yang terpenting untuk dicermati adalah pertumbuhan konsumsi gas dalam negeri terus naik rata-rata 9 persen per tahun. Apabila penambahan cadangan tidak lebih cepat dari pertumbuhan konsumsinya, bukan tidak mungkin suatu saat Indonesia akan menjadi net importer sektor gas. Di sektor minyak, Indonesia sudah lebih dulu menjadi net importer.

Lapangan migas yang sudah tua, serta minimnya temuan cadangan migas baru menjadi faktor utama terus turunnya produksi migas Indonesia. SKK Migas mencatat, cadangan terbukti Indonesia per Januari 2016 mencapai 3,3 miliar barel untuk minyak dan 101,2 triliun kaki kubik untuk gas. Padahal, pada 2009 masih tercatat 4,3 miliar barel untuk minyak, dan gas bumi sebesar 107,3 triliun kaki kubik. 

Iklim investasi sektor migas nasional yang dinilai kurang kondusif, serta tren turunnya harga minyak bumi dunia dalam tiga tahun terakhir menjadi variabel penting dalam pengaruhnya terhadap tren turunnya produksi migas Indonesia. Kondisi ini tentu tidak bisa terus dibiarkan. Terlebih migas masih mendominasi pasokan energi primer Indonesia dalam beberapa dekade yakni sekitar 69 persen. DEN memprediksikan, porsi ini akan turun menjadi 47 persen pada 2025 dan 44 persen pada 2050. Ini bayangan mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya krisis energi nasional di masa depan.

Apa solusi untuk mengantsipasi kemungkinan terjadinya krisis migas yang nota-bene adalah krisis energi? Pertama, perbanyak eksplorasi. Mendorong eksplorasi dengan target lapisan yang lebih dalam. Lalu mengeksplorasi daerah-daerah terpencil, perairan laut dalam, dan cekungan-cekungan lain yang berpotensi mengandung cadangan migas. Saat ini masih ada 74 cekungan hidrokarbon yang belum dieksplorasi. 

Selain itu pada cekungan-cekungan yang sudah menghasilkan migas, potensi pun masih lumayan tersedia sepanjang kegiatan eksplorasinya erus  digalakkan. Contohnya, penemuan cadangan minyak yang cukup signifikan di Blok Cepu pada tahun 2001. Padahal sebelumnya di sekitar wilayah tersebut sudah cukup banyak kegiatan produksi migas yang berasal dari sumur tua. Jika upaya pencarian cadangan baru di banyak cekungan kawasan lama migas terus digalakkan, sangat mungkin penemuan sepeti terjadi kawasan Blok Cepu akan terjadi.

Masifnya kegiatan eksplorasi ini akan tercapai bila industri hulu migas di Indonesia kompetitif. Iklim investasinya terus disegarkan agar akin kondusif dan diminati. Dibutuhkan penyederhanaan regulasi dan perizinan, serta insentif yang menarik. Selain itu, diperlukan pula kemudahan akses dan ketersediaan data geologi yang memadai bagi para investor. 

“Perlu dukungan kuat pemerintah dan semua pemangku kepentingan agar semua tahapan dapat berjalan dengan baik,” kata Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, dalam satu kesempatan. 

Menurutnya, industri hulu migas adalah proyek strategis negara untuk bangsa Indonesia. “Industri ini siap kerja bersama, lebih cepat, dan efisien dengan berbagai pemangku kepentingan,” katanya.

Solusi Kedua, produksi dan konsumsi harus dilakukan secara seimbang dan bijaksana. Produksi migas dilakukan melalui konservasi dan teknologi tepat guna agar cadangan migas yang ada bisa digunakan untuk jangka panjang. Konservasi artinya cadangan migas yang ada di perut bumi tidak asal dikuras habis. Pemakaiannya harus irit. Ini soal edukasi terhadap gaya hidup konsumen.

Target produksi harus disesuaikan dengan kemampuan reservoir atau lapisan batuan yang menyimpan cadangan migas. Tujuannya, agar jangka panjang tidak terjadi kerusakan reservoir. Teknologi tepat guna artinya, penerapan tekonolgi yang tepat sasaran untuk meningkatkan produksi. Misalnya, peningkatan produksi dan cadangan melalui penerapan teknologi pengurasan minyak tingkat lanjut (enhanced oil recovery/EOR). Dari sisi konsumsi, penggunaan bahan bakar berbasis migas harus dihemat. Apalagi mengingat gap antara produksi dan konsumsi semakin melebar dari tahun ke tahun.

Ketiga, diversifikasi energi atau upaya penganekaragaman energi sudah menjadi keniscayaan. Konversi minyak ke gas adalah salah satu contoh. Sudah banyak pembangkit listik yang tadinya menggunakan energi minyak beralih ke gas. Ini langkah efisien dan bisa menyokong penambahan jumlah power-plant baru. Masih soal diversifikasi energi, dapat pula dilakukan dengan mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT). Pengembangan sektor EBT harus terus diupayakan dari berbagai sumber daya alternatif.

Berdasarkan data DEN, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) pada tahun 2016 lalu baru tercatat lima persen dari total pasokan energi nasional. Komposisi ini harus terus ditingkatkan. Tidak boleh tidak. Diperlukan usaha lebih keras agar porsi EBT dalam kerangka ketahanan energi nasional semakin bertambah di masa mendatang. Ketergantungan terhadap energi fosil, terutama minyak, secara perlahan harus terus dikurangi agar pengelolaan energi nasional bisa berjaln secara berkelajutan.*** (ks-2)

Komentar