Tak Juara di MTQ Internasional ke-18 Moskow, Irfan Minta Maaf

Delegasi Indonesia di MTQ Internasional Moskoq Irfan bin Ahmad,

KANALSATU - Indonesia ikut serta dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Moskow ke-18 kategori Tilawah di Moskow tanggal 6-8 Oktober 2017. Meskipun peserta dari Indonesia belum berhasil mendapatkan prestasi terbaik, keikutsertaan pada MTQ kali ini memberikan pengalaman yang sangat berharga.

“Meskipun belum mendapat juara, ini pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Mohon maaf belum bisa memberikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia,” ujar Irfan bin Ahmad Timat peserta MTQ Internasional delegasi dari Indonesia.

MTQ internasional ke-18 yang diselenggarakan oleh Dewan Mufti Rusia ini dikuti oleh 32 peserta dari 32 negara di Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Asia. Indonesia diwakili oleh Irfan bin Ahmad Timat asal Kepulauan Riau yang sebelumnya meraih juara kedua kategori tilawah tingkat remaja pada MTQ Nasional ke-26 di Lombok tahun 2016.

Selain Indonesia, peserta MTQ internasional lainnya antara lain berasal dari Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Iran, Uni Emirat Arab, Qatar, Maroko, Palestina, Suriah, Rusia, Spanyol, Estonia, Turki, Kazakhstan, Tajikistan, Uzbekistan, Tiongkok, Malaysia, dan Tanzania. Babak penyisihan MTQ internasional dilangsungkan di Masjid Agung Moskow yang merupakan Masjid terbesar di Eropa.

Juara pertama MTQ internasional ini diraih oleh Amir al Awal dari Iran, peringkat kedua oleh Mohamed Sameer dari Bahrain dan peringkat ketiga oleh Ahmad Safi dari Suriah. Para peserta lainnya memperoleh piagam penghargaan.

Menurut Dubes Wahid, Rusia yang sebelumnya bernama Uni Soviet dan walaupun mayoritas penduduknya beragama Kristen Orthodox, namun Islam merupakan agama terbesar kedua, atau 14% dari sekitar 147 juta penduduknya. MTQ tingkat internasional Moskow telah diselengarakan sejak tahun 2000. Indonesia dan Rusia dapat bekerja sama dan berbagi pengalaman untuk penyelenggaraan MTQ seperti ini, karena di Indonesia sering diselenggarakan MTQ tingkat nasional dan internasional.

“Kita sambut baik MTQ ini dan kehadiran Indonesia tidak hanya untuk mempererat ukhuwah islamiyah, tetapi juga hubungan antar bangsa,” kata Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi yang hadir pada pada acara penutupan di Crocus City Hall Moscow (8/10/17).

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Khoirudin yang mendampingi peserta Indonesia mengatakan Indonesia selalu mengikuti MTQ  tingkat international di manca negara, terutama Timur Tengah dan Eropa. MTQ Internasional setiap negara berbeda-beda gaya dan sistem penilaian. Biasanya Indonesia meraih peringkat terbaik atau masuk dalam tiga besar. 

“Di Rusia lebih pada penilaian tajwid, bukan lagu. Sedangkan di Indonesia ditekankan pada tajwid, variasi nada dan lagu. Mungkin ini salah satu kendala meraih juara, termasuk juga cuaca yang sudahdingin di Moskow mempengaruhi suara peserta kita,” kata Khoirudin.

Yang menarik dari MTQ ini adalah antusiasme besar dari masyarakat muslim Rusia yang memadati Crocus City Hall Moscow. Lebih dari seribu orang menyaksikan acara penutupan dan pengumuman pemenang yang berlangsung meriah dan khidmat. Mereka rela mengeluarkan biaya antara US$ 15 hingga US$ 70 untuk membeli tiket masuk agar dapat menyaksikan dan mendengarkan langsung lantunan ayat-ayat Suci Al-Quran oleh para qori terbaik. Pendapatan dari penjualan tiket itu sendiri akan diberikan oleh panitia penyelengara untuk bantuan kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

Bersamaan dengan acara ini juga diselenggarakan bazaar yang menampilkan produk-produk halal dan juga busana muslim dari beragai daerah di Rusia, umumnya dari propinsi yang mayoritas beragama Islam seperti Chechnya, Tatarstan, Bashkortostan dan Dagestan.

Melalui ayat-ayat Suci A-Quran yang dilantunkan lima peserta terbaik dari Bahrain, Suriah, Libya, Mesir dan Iran, penyelanggaraan MTQ memberikan pesan kepada umat manusia untuk senantiasa menjaga dan melindungi alam semesta yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa, seperti air, udara, hutan dan tanah. Selain itu, pentingnya juga menjaga dan melindungi anak-anak sebagai generasi penerus agar memiliki budi pekerti yang luhur. (ed-mskw/ks-10)

Komentar