Aturan baru penggolongan pabrik dijalankan, 164 pabrik rokok terancam tutup

KANALSATU – Keberadaan industri rokok semakin terdesak. Selain rencana kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) pemerintah juga berencana mengurangi simplifikasi layer atau penggolongan pabrik berdasarkan kemampuan produksi, dari 12 layer menjadi 9.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Jawa Timur, Sulami Bahar, bila ada pengurangan berarti ada golongan pabrik yang beralih. Misalnya untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan 2B yang diprediksi dinaikkan ke 2A.

Dengan adanya kebijakan itu,  Sulami juga menyebutkan potensi pabrik rokok golongan 2B yang pasti akan tutup. Jumlahnya tidak main-main, mencapai 164 pabrik.  

”Yang tak kalah menyedihkan jika perusahaannya tutup, otomatis akan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal,” lanjut Sulami.  

Lebih lanjut,  Sulami menyebutkan dari hasil penelitian Survei Rokok Ilegal Universitas Gajah Mada pada 2016, semakin berkurang jumlah layer, maka peredaran rokok ilegal semakin tinggi. Pemerintah akhirnya yang rugi sendiri.

Berdasarkan data-data itu, rencana maka pengurangan layer di tengah kinerja industri yang mengalami penurunan akan menyebabkan industri semakin terperosok. ”Sebaiknya pemerintah menunda rencana tersebut demi kebaikan banyak pihak,” tambah Sulami.

Ia berharap, jumlah layer masih tetap  seperti yang berlaku saat ini.

Tidak hanya mengenai simplifikasi layer, pada pertengahan Oktober 2017 ini pemerintah berencana mengumumkan secara resmi kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang mencapai 8,9 persen. ”Kondisi industri rokok saat ini sedang menurun, tidak seharusnya CHT dinaikkan. Apalagi sejak tahun 2013 industri rokok terus mengalami penurunan penjualan dan produksi,” kata Sulami.

Selain berharap ada kelonggaran kebijakan cukai, Gapero menyarankan agar dilakukan ektensifikasi  Barang Kena  Cukai  (BKC) selain  Cukai  Hasil  Tembakau (CHT/Rokok). Pasalnya, di Indonesia  baru  tiga barang yang kena cukai yakni,  Tembakau/Rokok, Ethil  alcohol  (EA), Minuman  Mengandung  Ethil  Alkohol (MMEA).

”Sementara BKC di Malaysia berjumlah 13 BKC, di India ada 28 BKC, kemudian Singapura  berjumlah 10 BKC, Thailand berjumlah 24 BKC," ungkapnya. Negara-negara tersebut sudah memasukkan BKC meliputi minuman karbonansi, plastik, BBM, gula, teh, barang textile, semen, sabun dan lain-lain.
(KS-5)

Komentar