Pemberontak di Afteng menteror dengan pemerkosaan

KANALSATU - Kelompok bersenjata di Republik Afrika Tengah menggunakan perkosaan dan perbudakan seksual untuk meneror perempuan, yang dipimpin oleh komandan yang tampaknya memerintahkan pemerkosaan tersebut, kata Human Rights Watch (HRW), Kamis (05/10).

Dalam sebuah laporan baru, kelompok hak asasi manusia (HAM) tersebut mencatat 305 kasus pemerkosaan dan perbudakan seksual yang dilakukan terhadap 296 perempuan, namun itu hanya mencerminkan sebagian kecil dari kekerasan seksual, katanya.

Pemerkosaan itu dilakukan mulai awal 2013 sampai pertengahan 2017, bahkan saat kekerasan berskala besar yang mengguncang negara tersebut usai penggulingan Francois Bozize empat tahun lalu mereda.

“Kelompok bersenjata menggunakan pemerkosaan dengan cara yang brutal dan terencana untuk menghukum dan meneror para perempuan,” ucap Hillary Margolis, peneliti hak-hak perempuan di Human Rights Watch.

Laporan tersebut menyebutkan enam pemberontak dalam jajaran kepemimpinan yang menurut kesaksian para penyintas melakukan pelecehan seksual atau memerintahkan pejuang mereka melakukan perkosaan itu.

Sampai saat ini, para penyerang “tidak menghadapi konsekuensi apa pun,” kata Margolis.

Salah satu negara termiskin di Afrika, Republik Afrika Tengah dilanda pertumpahan darah pada 2013 menyusul penggulingan Bozize oleh koalisi kelompok pemberontak mayoritas muslim yang disebut Seleka.

Sebagai balasan, orang Kristen, yang berjumlah sekitar 80 persen dari populasi, membentuk unit milisi sipil yang diberi nama “antibalaka” dan kekerasan antara kedua kelompok tersebut telah menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa.

“Komandan dari kedua pihak utama dalam konflik tersebut menoleransi kekerasan seksual oleh pasukan mereka: dalam beberapa kasus, mereka tampaknya memerintahkan dan melakukan itu,” menurut laporan kekerasan seksual di Republik Afrika Tengah.(Antara/AFP/ks)

Komentar