La Nyalla : Pemerintah belum maksimal tingkatkan kesejahteraan guru

La Nyalla bersama KH Asraful Anam, pengasuh PP Nurul Burhan - Ngawi

KANALSATU - Bakal calon gubernur Jawa Timur, Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti, menilai pemerintah masih belum maksimal meningkatkan kesejahteraan guru ngaji di kampung-kampung, di lembaga pendidikan non-formal, maupun di lembaga pendidikan formal keagamaan. Kondisi tersebut dinilai La Nyalla ironis,  mengingat besarnya peran guru ngaji dalam membentuk akhlak, karakter dan rasa kebangsaan generasi penerus bangsa.

“Kita ini terlalu lama bicara besar yang muluk-muluk. Soal nasionalisme, soal karakter generasi muda, dan sebagainya. Tapi yang tampak di depan mata kita sering luput, termasuk nasib para guru ngaji. Saya dengar curhatnya, masya Allah trenyuh mendengarnya. Ini terjadi di provinsi yang katanya banyak pejabatnya yang religius dan santri,” ujar La Nyalla di sela-sela mengunjungi sejumlah pesantren di kampung-kampung yang ada di Kabupaten Ngawi, Selasa (1/8/17).

Menurut La Nyalla yang juga Ketua Umum Kadin Jatim, guru ngaji mendapat kesejahteraan yang jauh dari layak. Banyak di antaranya yang hanya mendapat insentif Rp 100.000 per bulan. “Padahal, sumbangan mereka untuk negeri ini luar biasa dan tak ternilai. Mereka mendidik putra-putri Jatim dengan ilmu agama sebagai landasan moral dan akhlaq. Tapi pemerintah tidak maksimal memperhatikan mereka," kata La Nyalla, yang setiap Lebaran melalui Kadin Jatim memberi donasi untuk ratusan guru ngaji.

Selain mengajar ngaji, para guru yang berdomisi di kampung-kampung itu juga mengajarkan rasa kebangsaan. Benih Islam rahmatan lil alamin disemai oleh mereka ke anak-anak sejak dini. “Pemimpin kita yang berlatar belakang santri itu sibuk berpidato pentingnya rasa kebangsaan dan menjaga NKRI, lha ini jelas-jelas ada guru ngaji yang mengajarkan Islam rahmatan lil alamin, tapi kok tidak diperhatikan. Ini curhat asli dari para guru ngaji, tidak saya tambah-tambahi. Memang kita terlalu lama abai, sudah seyogianya pemerintah mohon maaf kepada para guru ngaji," kata La Nyalla.

Sejumlah pesantren yang dikunjungi La Nyalla di Ngawi, antara lain Ponpes Bayem Taman asuhan KH Dimyati, Ponpes Mambaul Hikmah asuhan Gus Dum, Ponpes Condromowo asuhan KH Abdul Hamid, Ponpes Roudlatul Solihin asuhan KH Affandi, dan Ponpes Widodaren asuhan KH Asraful Anam. Di pesantren-pesantren tersebut, La Nyalla berdialog dengan para kiai, tokoh masyarakat, dan santri.

Ekonomi Pesantren

La Nyalla juga menyinggung peran pesantren, yang telah terbukti tidak hanya mendidik ilmu agama kepada santrinya, tetapi juga memberikan skill untuk mengembangkan ekonomi. Seperti pertanian, peternakan, perikanan dan perdagangan melalui koperasi pesantren. Sehingga selepas dari pesantren para santri memiliki juga ketahanan dan kemandirian ekonomi yang berlandaskan moral dan akhlak Islam.

Namun, dari hasil kunjungannya ini, La Nyalla menemukan fakta menarik. Ternyata kalangan pesantren yang berinisiatif menggerakkan kewirausahaan berbasis pertanian masih jauh dari perhatian pemerintah. Jangankan dalam bentuk bantuan, fasilitasi pemasaran pun susah didapat.

“Kata para santrinya tadi, mereka lebih untung langsung memasok barang ke Jakarta, bisa lebih untung. Padahal, Pemprov Jatim kan punya Puspa Agro, tapi pesantren tidak mau suplai ke sana, karena marjinnya lebih kecil. Padahal pemasaran salah satu pilar bisnis,” tegas La Nyalla. (ks-6)

 

Komentar