Sekjen PBB berduka atas kematian Liu Xiaobo

KANALSATU – Bukan hanya Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang tidak mengkritik China atas kematian warga Tiongkok peraih Nober Perdamaian Liu Xiaobo, tapi juga Sekjen PBB Antonio Guterres.

Guterres menyatakan amat berduka atas meninggalnya Liu Xiaobo, tetapi dia tidak mengkritik China yang menolak mengizinkan Liu untuk perawatan medis di luar negeri.

Liu Xiaobo yang aktivis prodemokrasi tersebut meninggal setelah bergulat dengan penyakit kanker. Dia mendekam dalam tahanan hingga ajal menjemput karena Beijing menolak seruan masyarakat dunia agar dia mendapat perawatan medis di luar negeri.

Guterres amat berduka mendengar kabar meninggalnya Liu dan “berbelasungkawa kepada keluarga beliau dan sahabat-sahabatnya,” ujar juru bicara PBB Stephane Dujarric, Kamis (13/7)
Menanggapi penolakan Tiongkok agar Liu memperoleh perawatan di luar negeri dan kekhawatiran mengenai nasib istrinya, penyair Liu Xia yang menjalani tahanan rumah, Dujarric mengatakan “Saya tidak bisa memberikan keterangan lebih jauh untuk saat ini.”

Liu merupakan aktivis demonstrasi prodemokrasi di Lapangan Tiananmen pada 1989. Ia meninggal dalam usia 61 tahun pada Kamis, lebih dari sebulan setelah dipindahkan dari penjara ke rumah sakit di bawah pengamanan ketat untuk menjalani perawatan kanker hati.

Sementara itu, Chen Guangcheng , aktivis China yang telah lari ke AS, menuding bahwa peraih Nobel Perdamaian itu secara sengaja dibunuh oleh pemerintah China. Maka itu Guangcheng  mendesak masyarakat internasional terus melakukan tekanan terhadap Beijing, Kamis (13/07).
Otoritas Tiongkok memindahkan sang Pembangkang itu dari penjara ke rumah sakit di kota timur laut Shenyang,  kurang dari dua bulan lalu. Permintaan Xiaobo  untuk  menjalani perawatan di luar negeri ditolak pemerintah.

“Kita perlu melihat kematiannya sebagai kematian yang tidak wajar,” ujar Chen Guangcheng   kepada AFP dalam wawancara via telepon dari Washington, tempatnya tinggal setelah melarikan diri dari desa asalnya di Tiongkok timur pada 2012.

“Dia dibunuh oleh CCP (Partai Komunis Tiongkok) dengan sengaja dibunuh oleh mereka,” ujar Chen melalui seorang penerjemah. Beberapa hari lalu, Partai Komunis menyebarkan berita yang menyebutkan bahwa Liu Xiaobo bisa berjalan dan makan, tapi kemudian tiba-tiba meninggal. Ini sangat mencurigakan,” kata Guangcheng .(AFP/Ant/ks-1)

 

Komentar