Trump dan Macron tidak kritik China atas kematian Liu Xiaobo

KANALSATU – Meski ada permintaan dari Chen Guangcheng, aktivis dan pembangkang China yang lari ke AS agar dunia untuk menekan pemerintah China atas kematian warganya yang peraih Nober Perdamaian Liu Xiaobo,  namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak bergeming. 

Bahkan sebaliknya, kedua pemimpin negara besar itu terkesan memuji –muji Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam sebuah konferensi pers  pada Kamis (13/07). Kedua presiden terkesan menghindar untuk mengkritik Beijing atas kematian Liu Xiaobo. Bahkan Trump memuji Presiden Xi sebagai rekan sekaligus pahlawan. 

“Dia adalah teman saya. Saya sangat menghormatinya. Kami sudah saling mengenal. Dia seorang pemimpin yang luar biasa. Dia adalah pria yang sangat bertalenta. Saya pikir dia pria yang sangat baik. Dia mencintai Tiongkok. Saya bisa meyakinkan kepada Anda. Dia mencintai Tiongkok,” kata Trump.

Pujian tersebut disampaikan juga oleh Presiden Perancis Macron, yang menggambarkannya  sebagai sosok yang sangat konstruktif dan positif, setelah pihaknya menjalin kontak dengan Presiden Xi untuk pertama kalinya. Macron memuji Xi sebagai pejuang kebebasan.

Sementara itu Gedung Putih hanya merilis pernyataan bahwa Presiden AS bersedih atas kematian peraih nobel asal China Liu tapi tidak mengkritik China sama sekali. “Presiden Donald Trump sangat sedih dengan kematian peraih Nobel Perdamaian sekaligus tahanan politik ternama Tiongkok, Liu Xiaobo,” ungkap staf kepresidenan di Gedung Putih.

“Ucapan belasungkawa mendalam presiden disampaikan untuk istri Liu Xiaobo, Liu Xia, dan keluarga serta rekan-rekannya. Presiden Trump memuji Liu adalah seorang penyair, ilmuwan sekaligus advokad yang berani. Liu Xiaobo telah mendedikasikan hidupnya untuk mewujudkan demokrasi dan kebebasan,” tambahnya.

Sementara itu, Guangcheng  menuding bahwa peraih Nobel Perdamaian itu secara sengaja dibunuh oleh pemerintah China. Maka itu Guangcheng  mendesak masyarakat internasional terus melakukan tekanan terhadap Beijing, Kamis (13/07).

Liu Xiaobo,  veteran unjuk rasa di Tinanmen Square pada 1989 yang ditahan pada 2009 karena dituduh menghasut penggulingan pemerintah dengan manifesto Piagam 08 - yang menyerukan reformasi demokratik, diketahui meninggal pada Kamis (13/7) di usia 61 tahun setelah menderita kanker.

Otoritas Tiongkok memindahkan sang Pembangkang itu dari penjara ke rumah sakit di kota timur laut Shenyang,  kurang dari dua bulan lalu. Permintaan Xiaobo  untuk  menjalani perawatan di luar negeri ditolak pemerintah.

“Kita perlu melihat kematiannya sebagai kematian yang tidak wajar,” ujar Chen Guangcheng   kepada AFP dalam wawancara via telepon dari Washington, tempatnya tinggal setelah melarikan diri dari desa asalnya di Tiongkok timur pada 2012.

“Dia dibunuh oleh CCP (Partai Komunis Tiongkok) dengan sengaja dibunuh oleh mereka,” ujar Chen melalui seorang penerjemah. Beberapa hari lalu, Partai Komunis menyebarkan berita yang menyebutkan bahwa Liu Xiaobo bisa berjalan dan makan, tapi kemudian tiba-tiba meninggal. Ini sangat mencurigakan,” kata Guangcheng .(AFP/Ant/ks-1)

 

Komentar