OJK : Penyaluran kredit di beberapa sektor perlu diwaspadai

KANALSATU - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 terus mendorong perbankan untuk memperbesar penyaluran kreditnya. Meskipun demikian, ada beberapa sektor yang perlu diwaspadai karena rawan bermasalah.

”Sektor apa yang NPL (Non Performing Loan) nya tinggi? Diantaranya perdagangan dan industri pengolahan karena penyaluran kredit di sektor itu memang besar. Pertanian juga lumayan tinggi,” ujar Kepala OJK Regional 4, Sukamto kepada wartawan seusai acara Halalbihalal bersama industri jasa keuangan dan mitra kerja di  Surabaya, Rabu (5/7/17). Ia juga meminta perbankan untuk mewaspadai sektor infrastruktur.

Ia menuturkan, kinerja pembiayaan menjadi dasar penilaian pertumbuhan kinerja perbankan. Kemampuan perbankan menggenjot pembiayaan juga tidak terlepas dari kemampuan manajemen bank mengelola portofolio.

Berdasarkan data statistik Lembaga Jasa Keuangan Jawa Timur, pada posisi April 2017, aset perbankan di Jawa Timur meningkat sebesar 7,76 persen (yoy) masih lebih rendah dibandingkan peningkatan aset perbankan nasional yang sebesar 10,49 persen (yoy).

Pertumbuhan aset tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan DPK yang dihimpun perbankan di Jatim yang mencapai sebesar 7,85 persen (yoy), sedangkan kredit atau pembiayaan yang disalurkan tercatat tumbuh sebesar 6,05 persen (yoy). Sementara itu, peningkatan DPK dan kredit atau pembiayaan perbankan nasional pada posisi April 2017 masing-masing tercatat sebesar 9,63 persen dan 9,53 persen (yoy) masih lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur.  

Sukamto juga menyampaikan bahwa tantangan perekonomian Indonesia ke depan masih tergolong cukup tinggi. Meskipun pertumbuhan ekonomi global diperkirakan membaik dengan ditopang meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa dan Jepang, namun industri keuangan tetap harus mewaspadai berbagai resiko perekonomian yang dipengaruhi oleh kenaikan Fed Fund Rate, kebijakan fiskal dan perdagangan serta penurunan besaran neraca Bank Sentral Amerika Serikat serta perkembangan geopolitik di beberapa kawasan, khususnya semenanjung Korea dan konflik yang terjadi di Qatar.

”Perkembangan  ekonomi global secara langsung maupun tidak langsung berpotensi meningkatkan eksposur resiko psar dalam negeri,” ujarnya. Meski demikian, OJK telah mempersiapkan kebijakan terkait pemberdayaan UMKM maupun percepatan perizinan penerbitan surat berharga serta dukungan terhadap pengembangan layanan jasa keuangan berbasis teknologi (Fintech).

Dengan dukungan sinergi dan kolaborasi bersama Industri Jasa keuangan serta para mitra kerja dalam wadah Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah dan Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan Daerah, Sukamto yakin tantangan-tantangan perekonomian tersebut dapat ditangkap sebagai peluang-peluang baru yang dapat mendukung pencapaian target bisnis pada 2017 secara maksimal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.   (ks-5)

Komentar