Indonesianis Perkuat Hubungan Bilateral Indonesia-Australia

forum Indonesian Council Open Conference (ICOC) Universitas Flinders, Adelaide, Australia, 3 Juli 2017, kanalsatu.com

KANALSATU - Keberadaan Indonesianis yang banyak tersebar di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Australia memiliki peran yang sangat penting dalam membantu memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Australia. Untuk itu, perlu semakin didorong upaya untuk menghasilkan lebih banyak Indonesianis dengan mengoptimalkan keberadaan pusat studi Indonesia dan pengajaran Bahasa Indonesia di kampus-kampus di Australia.

Pernyataan ini disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia, Y. Kristiarto S. Legowo ketika menyampaikan sambutan pembukaan dalam forum Indonesian Council Open Conference (ICOC) yang diselenggarakan di kampus Universitas Flinders, Adelaide pada tanggal 3 Juli 2017.

Dubes RI Kristiarto secara khusus mengapresiasi kiprah Universitas Flinders dan universitas-universitas lain di Australia yang telah mencetak generasi baru Australia yang lebih mengetahui tentang Indonesia. Hal ini sangat penting karena orang Australia yang pernah mempelajari Bahasa Indonesia cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap Indonesia.

Terkait dengan pentingnya peran Bahasa Indonesia ini, Dubes RI Kristiarto telah memberikan prioritas yang sangat besar untuk terus mempromosikan Bahasa Indonesia di kampus-kampus maupun sekolah-sekolah, mulai tingkat SD hingga SMA di berbagai penjuru Australia. Bahkan, dalam waktu dekat akan didirikan Balai Bahasa Indonesia (BBI) di Adelaide, melengkapi BBI sebelumnya yang sudah ada di Perth, Canberra dan Melbourne/Tasmania.

Dubes RI Kristiarto juga mengusulkan perlunya diselenggarakan forum serupa di Indonesia agar semakin banyak publik di tanah air yang mendapatkan informasi terkini tentang Australia.

Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Flinders urusan kerjasama internasional, Sebastian Raneskold yang membuka secara resmi konferensi ini, menegaskan bahwa Forum ini merupakan salah satu komitmen Universitas Flinders untuk mendekatkan publik Australia dengan Indonesia. Terlebih lagi, di Negara Bagian Australia, Universitas Flinders adalah satu-satunya perguruan tinggi yang mengajarkan Bahasa Indonesia.

Konferensi yang digelar setiap dua tahun sekali secara bergantian di berbagai negara bagian di Australia ini, dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri dari Indonesianis dari Benua Kangguru, seperti Jemma Purdey, serta dosen maupun peneliti dari Indonesia, baik yang sedang menempuh studi di Australia maupun yang langsung datang dari tanah air.

Dosen dari Universitas Airlangga datang dengan jumlah terbanyak yang dipimpin oleh pengamat politik ternama, Kacung Marijan, dengan mengisi panel khusus yang disebut Panel Airlangga guna membahas sejumlah tema penting dari perspektif sosial, media dan politik serta hubungan bilateral Indonesia-Australia.

Beberapa akademisi dari negara lain, yakni Amerika Serikat, Jepang dan India juga turut menyampaikan paparan dalam konferensi yang berlangsung selama dua hari ini.

Tema utama konferensi tahun ini adalah 'Media, Pemuda dan Politik sehari-hari di Indonesia Dewasa ini'.

Menurut Ketua Panitia, Priyambudi Sulistyanto yang juga berprofesi sebagai dosen jurusan Hubungan Internasional dan Direktur Akademik program pengembangan Bahasa Indonesia yang disebut 'Jembatan' di Universitas Flinders, diharapkan melalui Konferensi ini akan dihasilkan lebih banyak kerjasama antar lembaga pendidikan tinggi dan penelitian kedua negara serta sekaligus untuk mendorong interaksi yang lebih luas antara Indonesianis dari Australia dengan mitra mereka dari Indonesia.

Konferensi ICOC ini secara khusus juga menggandeng Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia (PPIA) Universitas Flinders. Saat ini, tercatat sekitar 200 mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di berbagai jurusan di universitas ini, mulai program S-1, S-2 dan S-3.

Di sela-sela konferensi, Dubes Kristiarto juga mengadakan pertemuan dengan pemimpin Universitas Flinders, yakni Colin Stirling, guna membahas potensi kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan salah satu universitas ternama di Australia ini, khususnya dalam konteks pengembangan Bahasa Indonesia. (kbric/ks-10)

Komentar