Revitalisasi BUMN gula

Oleh Lutfil Hakim *

Melakukan perbaikan secara terus-menerus atau disebut continuous improvement adalah keniscayaan dalam upaya mencapai sukses. Terutama bagi sebuah perusahaan.  Teori ini tergolong lama, tapi tidak pernah gagal dalam melembagakan kesuksesan. 

Menurut ahli psikologi industri David Mc. Clelland, sistem manajemen harus dinamis. Tidak boleh pernah terhenti sejenak pun. Dan yang terpenting, harus bisa menumbuhkan virus N-Ach (need  for  achievement) pada individu di setiap lini perusahaan. 

Bukan hanya alat produksi yang diperbaharui, tapi sistem manajemen dan manpower –mesti selalu disegarkan. Tiga komponen penting itu harus berjalan simultan. Tidak boleh ada yang pincang. Apalagi stagnan. Semua harus bergerak dinamis, mengikuti ritme positif menuju arah target besar yang diinginkan. 

Menggunakan teori apapun – dalam meraih sukses perusahaan, jawabannya akan sama, yakni menciptakan kesamaan persepsi di semua komponen untuk melakukan perubahan dan perbaikan secara terus-menerus, atau continuous improvement. Baik itu perusahaan jasa, maupun industri. Terlebih bagi industri yang megelola usaha hulu hingga usaha hilir – seperti dilakukan BUMN bidang gula. 

Sebagaimana diajarkan teori Keizen, semua komponen harus terus-menerus melahirkan cara terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik dalam tugas-tugasnya. Serta menyadari posisinya sebagai bagian dari korporasi, dan tidak boleh bertindak separatif – meski posisinya berada di bagian terkecil sekalipun. 

Semua harus memiliki komitmen tinggi menyelesaikan target-targetnya secara efektif dan efisien. Tidak boleh satu pun individu di perusahaan bertindak distortif – walaupun tanpa sengaja. Apalagi disengaja. 

Menumbuhkan virus N-Ach (need  for  achievement) pada setiap individu di perusahaan tidak hanya dilihat dari aspek kepentingan insentif semata, tapi lebih dari itu merupakan dedikasi dan tanggung-jawab moral bersama kepada korporasi tempatnya bekerja. Selain merupakan tanggung-jawab kepada keluarga di rumah, bekerja sejatinya adalah ibadah. Bekerja secara baik sama artinya dengan menjalankan ibadah secara baik pula. 

Demikian pula yang seharusnya terjadi BUMN bidang gula. Semua lini di perusahaan (baik di on farm  maupun off farm) yang sudah terikat pada target kerja – sebagaimana diajarkan “Sistem Manajemen Strategik berbasis Balanced Scorecard”, harus bisa meraihnya secara maksimal. Tidak boleh ada bagian yang tertinggal. Apalagi menghambat. Sanksi tegas harus dijatuhkan kepada siapapun yang lamban, distortif, dan menghambat. Agar roda perusahaan tetap berjalan dinamis. Kepemimpinan dan sistem pengawasan juga harus berjalan secara efektif dan rasional.

Target dari pemerintah yang dibebankan kepada BUMN gula ke depan semakin berat. Sebagai bagian terpenting dari sistem produksi gula nasional, BUMN gula harus mampu menunjukkan kinerja yang maksimal. Pabrik gula (PG) di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN gula) ditarget produksi 3,26 juta ton gula pada 2019. Artinya, masing-masing PG di lingkungan BUMN gula harus mampu menghasilkan produksi lebih tinggi setiap tahunnya (2017, 2018) hingga 2019 dan seterusnya.

Target produksi gula 3,26 juta ton juga bukanlah angka yang kecil. Butuh ekstra kerja keras untuk mewujudkannya. Namun, jika di lingkungan internal BUMN (gula) bisa menunjukkan kinerja yang optimal secara terus-menerus, maka sangat mungkin akan tercapai hasil yang maksimal. Di sinilah pentingnya setiap komponen di lingkungan BUMN gula melakukan “revolusi budaya kerja” secara kolektif ke arah yang lebih baik. Agar diperoleh hasil kerja yang optimal. Sehingga target besar yang ditetapkan Kementerian BUMN bisa diraih, yang itu berrarti mewujudkan target yang diinginkan Presiden dalam konteks swasembada gula nasional.

Pada level on farm, misalnya, semua pihak terkait harus bisa mendorong tercapainya tanaman tebu yang berkualitas secara kuantitas, yang bisa menghasilkan rendemen minimal di level 8,5%. Target minimal seperti ini harus terus diperbaharui setiap musim tanam, baik pada luasan lahan, kualitas tanaman, maupun level rendemen. Jika setiap tahun bisa menaikkan level rendemen 1% saja, maka pada 2019 sudah bisa dicapai rendemen 11,5%.

Jika Thailand bisa melakukan itu, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan “tidak bisa”. Jika masing-masing komponen di level PG hingga posisi supporting di tingkat kantor pusat bisa menumbuhkan virus N-Ach dari sekarang, serta terus melakukan continuous improvement, maka dengan sendirinya target swasembada gula nasional akan tercapai dalam tempo yang tidak terlalu lama.

Selain itu, hilirisasi produk yang telah dilakukan BUMN gula juga akan menjadi bencmarking bagi sistem pergulaan nasional. Revitalisasi industri yang sekaligus menggarap hilirisasi produk dengan memproduksi bioetanol dari tetes tebu, serta pembangkit listrik melalui program cogeneration berbasis ampas tebu, akan menjadi sebuah model ideal bagi perusahan gula nasional ke depan. 

Jika target produksi gula 3,26 juta ton bisa tercapai pada 2019, yang tentunya juga menghasilkan tetes dan ampas tebu yang cukup, maka linear dengan itu – sesuai penghitungan — seluruh BUMN (gula) sangat mungkin (bisa) memiliki delapan (8) pabrik bioetanol berkapasitas total 660 KLPD, dan program cogeneration pada 12 lokasi berkapasitas total 118 MW, serta sembilan (9) pabrik pupuk organik. 

Hilirisasi ini menjadi penting bukan hanya karena aspek ekonomi, tapi juga bagian dari peningkatan kinerja PG itu sendiri. Karena hanya PG berkinerja prima yang bisa mewujudkan program hilirisasi dengan baik.

Impian semacam ini pasti bisa tercapai bila seluruh komponen bisa menumbuhkan virus N-Ach dan melakukan continuous improvement tiada henti. Jika model dan etos kerja semacam ini bisa dilakukan secara bersama-sama, maka sebenarnya bersamaan dengan itu telah terjadi revitalisasi terhadap BUMN bidang gula.*

* Lutfil Hakim, pemimpin redaksi kanalsatu.com

Komentar