H.M. Ridwan Hisjam, insinyur politik

KANALSATU - H.M. Ridwan Hisjam sudah malang-melintang di pentas politik. Meski branding atas dirinya lebih lekat sebagai pengusaha, tapi Pria berdarah Bugis kelahiran Surabaya, 26 Mei 1958 ini (59 th)  lebih pas jika disebut sebagai politisi. Karir politiknya dimulai sejak masih muda di Partai Golkar, dan sudah menapaki seabreg jabatan politik di partai itu, termasuk sebagai Bendahara Umum dan Wakil Sekjen DPP Partai Golkar.

Ridwan terpilih pertama terplih sebagai Anggota DPR RI periode 1999 – 2004 dan sedikitnya tiga kali pindah komisi, yakni Komisi III, Komisi V dan Komisi VIII. Dari ketiga komisi itu setidaknya Ridwan sangat memahami sejumlah sektor pemerintahan yang dibidangi, antara lain:  pertanian, kehutanan, kelautan, BUMN, perindustrian, perdagangan, pangan, pertambangan dan ristek).

Pada 2004 – 2009, Ridwan Hisjam terpilih sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jatim sekaligus (pada periode itu) duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Jatim. Sebagai unsur pimpinan, tentunya aneka program dan persoalan pemerintahan provinsi yang dibidangi oleh lintas komisi - juga menjadi urusannya. Kemampuannya harus di atas rata-rata anggota biasa.

Pada Pileg 2014, Ridwan Hisjam terpilih kembali sebagai Anggota DPR – MPR RI periode 2014 – 2019. Kali ini sarjana lulusan Teknik Perkapalan ITS itu duduk di unsur pimpinan Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, pemuda-olahraga, perpustakaan dan ekonomi kreatif. Ridwan juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar. 

Artinya selama 13 tahun Ridwan Hisjam bermitra dengan pemerintah dalam kapasitasnya sebagai anggota legislatif di provinsi maupun di pusat - sehingga wajar jika politisi yang juga dikenal sebagai developer ini sangat mengusai bidang pemerintahan secara kaffah.

Bahkan ketika usianya masih 45 th, Ridwan Hisjam sudah berani tampil di panggung Pilgub Jatim  (Juli 2003) sebagai Cawagub bersama Cagub Abdul Kahfi, melawan Cagub Imam Utomo  dan Cawagub Soenarjo – saat Pilgub masih dipilih Anggota DPRD. Namun pasangan Kahfi - Ridwan ini tidak beruntung, suaranya kalah dalam pilkada. Pada Pilgub Jatim 2008, Ridwan kembali naik ke pentas sebagai Cawagub berpasangan dengan Cagub Sutjipto yang diusung oleh PDIP. Kali ini juga kalah. 

Pada Pilgub Jatim 2018, kabarnya Ridwan akan kembali tampil sebagai  salah satu kandidat. Namun belum memastikan apakah sebagai Cagub atau Cawagub, serta partai yang akan mengusungnya. Hanya saja tanda-tanda ke arah sana nampaknya mulai dipersiapkan, terutama yang terkait dengan lobi-lobi parpol untuk mendapatkan tiket rekomendasi.

“Ridwan selama ini dikenal memiliki hubungan sangat dekat dengan Akbar Tanjung, tokoh politik dan pemerintahan  pada zaman Orde Baru dan awal reformasi, bahkan Ridwan disebut-sebut sebagai murid kesayangan Akbar Tanjung. Sehingga wajar jika Ridwan sangat paham soal pemerintahan karena berguru langsung kepada Akbar Tanjung,” kata sejumlah kerabatnya.

Dalam kapasitasnya sebagai pengusaha, Ridwan Hisjam banyak berkiprah di sektor perumahan rakyat, satu sektor yang nota-bene seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah. Selain sukses membangun banyak rumah melalui bendera PT Surabaya Patria Mudan da Grup Euator, Ridwan Hisjam juga tercatat sebagai pengurus aktif DPD REI Jatim – bahkan pernah menjadi Ketua Umum REI Jatim dan beberapa periode berikutnya menjadi Wakil Ketua REI Pusat.

Ridwan juga dikenal sebagai salah satu pendiri sekaligus pengurus (Komisaris Utama – hingga sekarang)  PT Sarana Jatim Ventura, perusahaan modal ventura daerah (PMVD) yang pendiriannya diprakarsai Departemen Keuangan bersama sejumlah pengusaha swasta termasuk dirinya. Sarana Jatim Ventura berperan aktif menumbuhkan sektor usaha kecil-menengah (UKM) yang nota-bene tanggung-jawab itu seharusnya berada di tangan pemerintah.

Ridwan tergolong politisi vokal dan sering bersuara lantang mengkritisi kebijakan internal partai maupun kebijakan pemerintah yang dinilai tidak sesuai kebutuhan rakyat.  Bahkan Ridwan beberapa kali terkesan berseberangan dengan pimpinan Partai Golkar dalam menyikapi dan mengkritisi sejumlah persoalan bangsa. 

Mantan ketua umum Hipmi Jatim ini juga tergolong sosok yang aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, dan tercatat sebagai pengurus penting di sederet ormas dan perusahaan.  Ridwan yang banyak tampil di depan publik kampus sebagai pembicara seminar, diskusi, FGD, sarasehan, dan workshop itu juga duduk sebagai pimpinan di Ikatan Alumni (IK) ITS periode ini, bersama dirut (mantan) Pertamina Dwi Soetjipto.

Ridwan yang masa kecilnya menamatkan sekolah di SD dan SMP Islam Mujahidin – Perak Surabaya,  itu juga tercatat aktif sebagai juru bicara fraksi atau komisi X di berbagai media & televisi terkait persoalan-persoalan yang dibidangi, termasuk soal budaya. Bahkan Ridwan sendiri bertindak sebagai Ketua Panja RUU Kebudayaan RI dan banyak berdialog dengan SKPD – SKPD di daerah se- Indonesia terkait budaya dan karakter bangsa, serta 4 pilar demokrasi kebangsaan Indonesia yakni Pancasila, UUD 45, NKRI dan kebinekaan Indonesia.

Terkadang  usulan-usulan Ridwan sebagai anggota DPR RI nampak kontroversi, misalnya usulan tentang  dimasukannya jenis rokok kretek dalam koridor budaya bangsa yang diawali dengan gagasan dibentuknya museum khusus rokok kretek sebagai bagian dari museum budaya bangsa.  Gagasan ini berlatar kian terdesaknya jenis rokok kretek di pasaran bersaing melawan jenis rokok putih dan mild. Pemikirannya semata-mata didasari pengetahuan bahwa rokok kretek hanya ada di Indonesia dan merupakan warisan budaya bangsa yang patut dilestarikan keberadaannya.

Masih sekitar kontroversi, Ridwan juga tampil sebagai salah satu tokoh Jatim dan anggota DPR RI - yang mengusulkan dibentuknya Provinsi Madura sebagai pemekaran wilayah, agar provinsi Jatim semakin ramping serta kuat, dan Madura hidup mandiri dengan mengoptimalkan potensi yang tersedia. 

“Selama ini APBD 4 kabupaten di Madura jika dijumlah totalnya hanya Rp8 triliun. Kalau misalnya jadi provinsi dengan membagi kabupaten Sumenep menjadi dua yakni daratan dan kepulauan, serta Bangkalan menjadi dua yakni kabupaten dan kota, maka jumlah pemda di Madura menjadi 7 termasuk pemprov Madura. Dari 7 pemda itu APBD nya bisa meningkat menjadi Rp14 triliun. Belum lagi potensi energi gas, pariwisata dan bahan baku industri yang banyak tersimpan di Madura,” kata Ridwan.

Sederet jejak rekam kiprah, prestasi, dan pengabdian Ridwan Hisjam itu patut untuk diberikan penghormatan, sehingga asosiasi jurnalis yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur memberikan penghargaan berupa PWI JATIM AWARD 2017. Kiprahnya dan Ketokohannya diharapkan bisa menjadi contoh bagi warga Jatim lainnya. Dia insinyur, praktisi pengusaha, tapi juga politisi. Sehingga tak jarang rekan-rekannya sering menyebutnya sebagai ‘Insinyur Politik’.(ks-1)

Komentar