Penyerobotan PT Eastwood Timber dibalik drama kepailitan

KANALSATU - Kasus kepailitan sering berbuntut masalah pelik bagi pihak yang dipailitkan.  Meski tidak semua, tapi tidak sedikit kasus-kasus kepailitan yang diwarnai agenda setting yang berujung pada penguasaan aset. Demikian pula nasib yang dialami Jap Fernando Japiter (akrab disapa Cun Cun) pemilik pabrik kayu PT Eastwood Timber Industries yang berlokasi di Gresik. Berawal dari kasus kepailitan yang menimpa dirinya, aset pabrik kayu kebanggaan keluarga itu “tiba-tiba” berada di tangan orang lain.

Kasus ini sedang di-investigasi oleh tim redaksi Surabaya Pagi (cetak & online). Bagimana proses aset pabrik kayu milik Cun Cun itu tiba-tiba berpindah tangan ke orang lain (Haryono Soebagiyo alias Jing An)-, berikut laporan tim redaksi surabayapagi.com:

Tim investigasi Surabaya Pagi menemukan dugaan praktik pengambil- alihan pabrik kayu PT Eastwood Timber Industries di Jl. Mayjend Sungkono No. 88 Gresik, oleh pengusaha kayu Haryono Soebagiyo. Pria yang akrab disapa Jing An ini mengaku bisa mengurus perkara Kasasi di tingkat Mahkamah Agung (MA) terkait kasus kepailitan yang menimpanya.

Namun nilai tarif jasanya mencengangkan. Jing An mengutip biaya Rp 10,750 Miliar. Kasus ini melibatkan sejumlah notaris di Surabaya dan Gresik bahkan pengusaha ekspedisi di Gresik. Tim wartawan Surabaya Pagi melakukan investigasi reporting selama 2 (dua) bulan, dengan under cover, termasuk menghubungi Jing An, Rudi Sutanto, sejumlah notaris, untuk cover both side, keseimbangan peliputan.  Menariknya, Reportase ini dilengkapi dengan kajian hukum dari akademisi dan praktisi hukum. Berikut petikan hasil reportase tersebut.

Siapa sangka, bila bisnis Jap Fernando Japiter, yang semula bisa menghasilkan ratusan juta hingga miliaran rupiah, tiap tahunnya, langsung berubah drastis menjadi tidak memiliki apa-apa. Bahkan, Cun Cun, panggilan akrab Jap Fernando Japiter, sempat berurusan dengan perkara pidana. Persoalannya sepele yaitu Cun Cun, ingin melihat pabriknya, diperkarakan memasuki pekarangan pabriknya sendiri yang direbut Jing An. Cun Cun malah dipidana dan diadili Pengadilan Negeri Gresik. Hal itu diungkapkan Cun Cun, saat ditemui Surabaya Pagi, akhir Desember 2016 lalu.

Awal mula kejadian Pabriknya direbut oleh Jing An, saat perusahaan Cun Cun, yakni PT Eastwood Timber Industries (PT ETI) di Gresik dipailitkan oleh kliennya yakni perusahaan ekspedisi dari Bali, PT. Khrisna Bali Internasional Cargo.

“Semuanya berawal setelah kami dipailitkan sama rekanan kami di Bali. Nah PN Surabaya (Pengadilan Negeri Niaga Surabaya, red) mengabulkan. Malah sudah membentuk tim Kurator. Nah, saat kita ajukan Kasasi, disinilah kami ditawari oleh Jing An, yang katanya semuanya bisa diatur sampai tuntas. Memang Kasasi kita dikabulkan, ternyata dibalik semua itu, ada maksud lain yaitu Jing An ingin menghancurkan saya,” papar Cun Cun, pria yang kini terpaksa harus terkatung-katung menjalani masa percobaan setelah dipidanakan oleh Jing An, karena perkara memasuki pabriknya yang telah dikuasai Jing An.

Maksud lain yang dinyatakan oleh Cun Cun yakni, pabriknya, PT ETI diambil alih Jing An yang diduga dilakukan tanpa sepengetahuan Cun Cun dengan melibatkan beberapa pihak, diantaranya notaris, hingga beberapa oknum aparat penegak hukum.

“Memang saya itu awalnya mau pinjam uang ke Jing An, untuk urus Kasasi. Sama Jing An disanggupi, tapi dia mensyaratkan, yakni harus nurut apa yang diatur olehnya dan jaringan-jaringannya. Yah karena saat itu saya sedang kalut, saya yah percaya saja,” jelas Cun Cun.

Dari situ, ternyata Jing An, mempunyai andil selain mengurus biaya perkara pailit dengan mematok Rp 10,750 Miliar. Jing An juga diduga ikut mengatur seluruh perkara hukum hingga mengambil alih pengurusan asset dan saham miliknya.

“Saat itu kesepakatan awal urusan kasasi cuma Rp 2,5 M. Tapi tiba-tiba, dia kok mematok hingga Rp 10,750 Miliar. Malah dia juga maksa saya untuk buat AJB abal-abal dengan alasan pengamanan bila nanti sampai PK kalah. Bahkan Jing An malah menilai sendiri aset-aset saya. Padahal sudah ada apprasial,” kata Cun Cun, yang kini mengaku, pabriknya sudah dibongkar oleh Jing An dkk.

Namun nilai aset pabrik PT ETI, menurut Cun Cun, tak sesuai apa yang telah diappraisal pada tahun 2010. “Anehnya, dia menilai sendiri (nilai aset PT ETI, red) Rp 35 M. Padahal tahun 2010 kita ada appraisal Rp 50 M. Nahh dari situ, dia sebut pengurusan perkara bukan Rp 2,5 M, tapi Rp 10,750 M,” jelasnya.

Dari penelusuran di lapangan, Surabaya Pagi mendapatkan catatan yang diduga permintaan pengurusan perkara yang diminta Jing An sebesar Rp 10,750 M dengan perincian pemberian uang jasa ke sejumlah pihak terkait, bahkang sejumlah pejabat publik, termasuk uang jasa untuk Putusan Kasasi, Percepatan Putusan Kasasi, 2 kali Putusan PN,  biaya ke Perhutani, pengacara, kurator, hakim pengawas, ketua PN, hingga Panitera.

“Ada catatan yang dibacakan oleh Jing An dan saya disuruh menulis. Jujur, saya terkejut.. markus kasasi apa semahal itu ya,” kata Cun Cun yang kelahiran Samarinda 42 tahun, bernada tanya.
Selain itu, katanya, Jing An mengistilahkan pembuatan AJB pabrik Cun cun, yang sebenarnya abal-abal disebut untuk bemper perkara. Pabrik Cun Cun, beserta asetnya dan saham-saham PT ETI dikonversikan dengan PT baru bentukan Jing An, yakni PT. Anugerah Karya Jaya Sentosa Abadi (PT. AJKSA). Take over abal-abal ini dituang dalam Akta Notaris di Surabaya, tanggal 25 Oktober 2012. Padahal aset dan obyek PT ETI berada di Gresik. Take over “sandiwara” inilah yang diakui Jiang An secara hukum untuk menguasai pabrik kayu milik Cun Cun.

Yang menjadi pertanyaan, apakah perkara dalam pengurusan kepailitan hingga mencapai Rp 10,750 Miliar yang dilaporkan Jing An kepada Cun Cun sebagai praktik makelar kasus oleh bos kayu? Dengan siapa saja pengurusan kasasi pailit Cun Cun, dilakukan Jing An? Benarkah Jiang An bermain sendiri? Mungkinkah pengurusan Kasasi ini juga melibatkan beberapa oknum penegak hukum di Mahkamah Agung? Adakah keterlibatan pengusaha ekspedisi kayu di Gresik yang memiliki kantor lawyer di beberapa tempat di Surabaya? Tim Surabaya Pagi masih terus melakukan investigasi.(win)

 

Komentar