Berbisnis Kata kata

Oleh Sofyan Rambey

Dewasa ini kita harus sadar bahwa *dinamik Pilkada DKI telah menghasilkan beragam side effect yang berpotensi menimbulkan benih konflik, side job dan bahkan side income bagi sementara buzzer* yang memang by intention, secara sengaja memproduksi sejumlah issue negatif dan berita hoax dan kemudian mengkapitalisasinya menjadi rupiah. *Berbisnis Kata-Kata,* demikian seorang rekan secara anekdotal menyebutnya!

Akhir-akhir ini suka atau tidak, *kita terpaksa banyak mengonsumsi berita hoax, ujaran kebencian, sentimen sara dan sikap rasis, ulasan -the so called pakar- tanpa dukungan validitas fakta, kampanye hitam, artikel insinuatif, pamphlet propagandis, perilaku eksibisionis sexual nir nilai dan sumpah serapah penuh caci maki di ruang publik terutama di ranah sosmed.*

Kesemua ini terpaksa kita terima melalui penyampai pesan yang tidak bertanggung jawab -- *irresponsible messenger--* yang sekedar mereproduksi berita hoax di ranah linimasa sosmed.

Sejatinya, *kesemua itu adalah sampah (rubbish) yang diproduksi, dikonsumsi dan direproduksi terutama oleh mereka yang memiliki daya literasi rendah. Sayangnya, bila tak berhati-hati hal itu dapat mendegradasi nalar jernih kita selaku insan cendekia.*

*Kebenaran semu yang disamarkan dan di reproduksi berulang dapat mengganggu kerja prefrontal cortex di otak kita.* Dan tanpa kecerdasan memadai, ia dapat memerangkap kita kedalam *fenomen stockholm syndrome* (kasus penyandera yang pada akhirnya berpaling mendukung pihak tersandera, karena tingginya derajat interaksi dan intensitas pertemuan keduanya).

Berikut adalah beberapa catatan lepas saya terkait hoax tersebut:

1. Menarik membaca pandangan inisiator komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho: *"Hoax berkembang karena rendahnya literasi. Bangsa kita bukan bangsa pembaca, melainkan bangsa _ngerumpi_. Tanpa memahami secara utuh, informasi langsung disebar tanpa dicek kebenarannya".*

2. Dampak dari rendahnya literasi adalah *tumpulnya daya intelektualitas kita dalam memfilter _kebenaran dari apa yang disamarkan secara semu sebagai kebenaran._* Dan menganggap segala informasi dari media, bahkan termasuk yang abal-abal sekalipun, sebagai fakta yang seakan sudah terverifikasi.

3. Sejatinya mudah, bila kita berkehendak *meningkatkan daya literasi dengan membaca beberapa harian mainstream terkemuka* dan rutin membaca liputan investigatif mingguan semisal *TEMPO* maka sedikitnya otak kita akan terhindar dari potensi sekedar menjadi tong sampah atas berita hoax. Tentu sebagai insan cendekia, *prinsip reasonable doubt tetap harus dikedepankan.* Sebagaimana *perilaku eksibisionis sexual nir nilai dari para "aktor makar" kemarin,* secara gamblang dan terang benderang *dapat dibaca di media TEMPO yang terbit pagi ini (February 6, 2017).* Kalaulah muatan berita media massa itu hoax, masih ada medium surat pembaca untuk menyanggahnya! Bagaimana sebaliknya dengan media daring? Kemana sanggahan atas hoax harus diviralkan!.

4. Menurut survey Unesco 2012, minat baca orang Indonesia baru mencapai *0,001%.* Hal ini berarti, *dari 100.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca!* Sungguh mengerikan!

5. Berdasarkan studi yang terangkum dalam *"Most Littered Nation In The World"* yang dilakukan oleh *Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu,* Indonesia menempati *posisi terbuncit kedua dari bawah dalam keliterasian dunia. Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara,* hanya _setingkat lebih baik dari Botswana._ Hal ini mengindikasikan kemampuan baca masyarakat Indonesia masih setara dengan South Africa! *What a notorious?* Belum lagi bila kita ukur dari metriks literasi sains, ICT, finance, culture dll. *Sungguhlah hasilnya pasti menyesak dada!*

6. Temuan studi PISA (The Programme for International Student Association) tahun 2015, mengindikasikan hal yang serupa. *Studi ini menilai kemampuan maths, reading and science.* Menariknya, skor literasi Indonesia hanya *397*, *satu tingkat lebih baik dari Peru (398),* sebuah negara di Amerika latin yang didominasi suku Inca dan memiliki legacy artefak yang sangat dikenal luas, machu picchu. *What a shame!*

7. Menarik pula mengulang *ulasan Prof. Karlina Supelli* sbb:

... Tetapi, *52%* warganya sudah melek internet, alias *132 juta* dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia sudah menjadi pengguna internet.
Lebih dari *60 juta* penduduknya punya smartphone, negara kelima terbanyak di dunia dalam kepemilikan smartphone.

Tapi, apakah pemiliknya juga smart?

Menurut Karlina Supelli dalam pidato kebudayaannya, (meski minat baca rendah) Indonesia nomor 5 paling cerewet di dunia.
*Jakarta, bahkan, adalah kota paling cerewet di dunia maya: 15 twit per detik.*

*Bayangkan tidak suka baca, tapi supercerewet.*
Apa jadinya?
*Hoax terserak, caci-maki berlipat ganda, sumbu pendek di mana-mana....*

Jadilah kita *sosok2 yang "gagah di dunia maya, gagal di dunia nyata."*

8. Laman daring *Turnbackhoax.id* yang diinisiasi oleh para aktivis teknologi infomasi Indonesia, telah *menerima 1.656 aduan hoax, fitnah, dan hasutan hanya dalam rentang waktu sebulan terakhir (1 Januari 2017 hingga 2 Februari 2017).* Laman ini dalam sebulan terkini dikunjungi sebanyak *47.132 kali* oleh *13.915* pengguna internet. Jumlah ini meningkat dibanding periode Desember 2016 yang mencatat kunjungan *28.219 kali* oleh *10.898* pengguna internet. Tak ketinggalan, selama tahun 2016 Bareskrim menerima *4.426* aduan masyarakat yang didominasi oleh masalah penghinaan di dunia maya. Sumbu pendek menebar korban dimana-mana. *Sudah sedemikian sakitkah bangsa ini?*

9. Kita tentu masih ingat, di Indonesia, *menjamurnya hoax dengan tujuan penghasutan negatif* di ruang sosmed bermula saat rivalitas kontestasi pilpres 2014 semakin menajam dan mengeras diantara pendukung kedua paslon. *Hakekatnya taklah terlalu berbeda dengan apa yang sedang berlangsung saat ini.* Berita hoax yang bertebaran di linimasa kemudian *dicomot oleh akun-akun tertentu yang memiliki hidden agenda untuk kemudian dirilis oleh media daring* yang umumnya tidak memiliki mekanisme verifikasi fakta yang seharusnya dilakukan dengan ketat disertai keberimbangan peliputan (cover both sides) yang proporsional. Ironinya adalah, banyak penerima pesan tanpa mengklarifikasi kebenarannya kemudian meneruskan hoax tersebut keberbagai sosmed hingga kadang menjadi viral.

10. Menarik mengikuti pandangan *Wasisto Raharjo Jakti* (peneliti gerakan politik, LIPI) yang memaknai hoax sebagai *"kekalahan di ranah politik formal yang diluapkan di ranah politik informal. Penyebar hoax itu memanfaatkan celah politik untuk "merebut" kekuasaan dari ranah informal dengan cara memaksimalkan dukungan publik melalui informasi palsu."* Pastilah tak terhindarkan terjadinya *ciber war* yang berujung sebagiannya pada *ciber crime.* Ia menambahkan, *"publik di Indonesia suka menanggapi informasi hoax karena kelas menengah di Indonesia adalah tipe masyarakat eksploratif, mencari informasi diluar informasi resmi yang selama ini beredar. Masyarakat yang penasaran kemudian mengikutinya secara berkelanjutan."*

11. Ditengah semakin mengerasnya polarisasi diantara para pendukung masing-masing paslon Pilkada DKI, tak terhindarkan sejumlah pengamat politik (bahkan yang berkelas doktor dan professor sekalipun), ilmuwan, scholar, pegiat dan aktivis HAM serta pesohor dari beragam strata profesi ikut-ikutan terjebak bersikap partisan! *_Objektivitas, sikap hanif, daya kritis, akal sehat, kecerdasan nalar orang waras di republik ini diberangus dan dipasung oleh para public opinion maker semata atas nama kapitalisasi ekonomi!_* Sebagai misal,

-- *Hoax terkait penetrasi 10 juta tenaga kerja asing asal China yang diisukan masuk ke Indonesia, tentulah menjadi issue sexy yang layak goreng!* Tentu kita tidak menafikan kenyataan hadirnya sejumlah kasus pekerja asing illegal, terutama terkait turn key project yang sangat mungkin built in dalam kontrak soft loan G-to-G. *Negara donor tentu memiliki bargaining position lebih baik dari negara penerima donor! Sesuatu yang jamak!* Namun gagal paham dalam membedakan *perilaku oknum dan bangsa,* ketidakmampuan membedakan *data sampling dan sensus,* ketidakmampuan mengerti beda *angka puluhan ribu versus puluhan juta,* kegagalan memaknai *dinamika global* oleh sementara pengamat politik partisan, tentulah patut dicuriga dengan sangat seksama! Apalagi artikel *--the so called pakar--* hanya berupa hasil wawancara dengan media daring kelas abal-abal (dan bukannya ditampilkan di media massa mainstream, sehingga dapat menjadi wacana di ranah formal) dan *dituliskan dalam senarai frasa bernuansa populis namun miskin data dan fakta???* Dalam sekejap, dapat saja berita hoax tersebut bekerja dengan baik, dan berhasil membangun persepsi negatif target sasaran *dan menjadi "seolah fakta kebenaran" (dalam tanda kutip)* serta memasuki relung-relung masyarakat gagap literasi (illiterate) di ranah informal. *Mau kau bawa kemana negara ini bung!.* Namun untunglah, Pemerintah segera memberikan klarifikasi di sejumlah TV dan media massa perihal data hoax TKA tersebut.

- Memang *demagogi populis sedang menjadi trend belakangan ini, bahkan ditingkat global sekalipun* bersamaan dengan fenomen Brexit dan kemenangan sosok Donald Trump di US. Simptom *protectionism, chauvinism dan populism tampak mulai dibangkitkan kembali dari liang lahat.* Tak kurang perhelatan akbar World Economic Forum (WEF) 2017 dikota Davos Januari lalu juga mengangkat issue ini secara serius!

- Bagaimana kita masih berbicara tentang "fakta" ketika tidak didukung kenyataan yang benar?, demikian *William Davies* menggugat dalam tulisannya *"Age of Post-Truth Politics"* di New York Times. Masalahnya adalah, para pakar dan institusi yang terlibat memproduksi "fakta" lalu menyebarluaskan *sekaligus membuka diri dan "mengundang untuk dipekerjakan."* Sebuah bentuk penghambaan diri yang menyesatkan! Di republik ini tak perlu aneh, *peringkat hasil pooling paslon dapat direkayasa, hasil studi untuk menjustifikasi kehebatan dan membangun persepsi positif paslon dapat dipesan, berita hoax tinggal nego harga dengan para buzzer, bagi-bagi jatah jabatan (setidaknya di level komisaris) paska kemenangan kepada TIMSES paslon sudahlah jamak adanya.* Perihal kemiskinan dan ketimpangan? *agh itu barang sudah sexy dari sononya bung!. Bahkan sejak kumpeni (baca VOC) menjejakkan kakinya di tanah Batavia.* Tinggal kita mainkan angka gini ratio, kelar sudah itu barang! *Hai Indonesiaku --bilakah kau khan dewasa?*

Motif ekonomi yang sangat mungkin mendasari dukungan pada paslon tertentu yang sedang berkontestasi yang dilakukan oleh oknum scholar, ilmuwan dan pemerhati politik partisan (dimana seharusnya mereka bersikap objektif, hanif, non-partisan dan senantiasa mengedepankan nalar jernih) dengan cara menebar hoax di media daring, tak ubahnya *ibarat perselingkuhan syahwat kekuasaan dan pelacuran intelektual, miskin nilai.*

12. Fenomen berita hoax pada akhirnya tak lebih berupa persinggungan kurva supply & demand yang menghasilkan kesepakatan harga diantara pemasok berita bagi the highest bidder dengan dasar motif ekonomi semata! Bila diperhatikan secara in-depth tampak pola yang berulang, *impresi yang coba dimunculkan substansinya bersifat populis, playing victimized, kadang disertai "dukungan seolah fakta",* yang kemudian di viralkan mengguna akun tertentu *dengan harapan diseminasinya akan mampu menembus prefrontal cortex para pembaca di ruang-ruang publik berbasis komunitas.* UNTUK SATU TUJUAN UTAMA YAKNI MEMENANGKAN PASLON TTT.

*Finally, you're what you read!* Salam. ????

*Jakarta, February 6, 2017*
*Sofyan Rambey, pemerhati dan praktisi Nutrigenomics*
Komentar