Selamat Idul Fitri 1437 H, Mohon Maaf Lahir & Batin

Oleh: M Arief Khumaedy

“Memaafkan”. Kata mulia ini sering kita dengar, kita baca di media sosial yang melekat di ponsel dan jaringan internet kita masing masing, dan kita lantunkan pada setiap pertemuan dengan sanak kerabat. Memaafkan didalamnya terkandung ketulusan, penyerahanan ego atau harga diri dan keberanian. Pada hari Raya Idul Fitri 1437 H ini momen bermaaf-maafan tersebut kita ulangi kembali.

 Memang dalam ajaran agama, perintah untuk memaafkan dilaksanakan setap saat, tidak hanya  pada  momen momen tertentu. Memaafkan tidak tergantung momen perayaan idul fitri, tetapi pada setiap kesempatan dalam kehidupan kita.  Memaafkan menjadi kewajiban untuk  dilakukan oleh orang beriman. Derajat orang yang mudah memaafkan orang lain akan digolongkan sebagai  orang yang berkedudukan mulia,  dimuliakan dengan mendapatkan keutamaan di dunia dan  sisi Allah swt nanti di akherat.

“Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kecuali kemuliaan (di dunia dan akherat)”. Seorang pemaaf akan mendapatkan kemuliaan di dunia seperti dihormati dan disegani dihadapan manusia kerena sifanya yang pemaaf, dan diakherat nanti akan mendapatkan kedudukan mulia dihadapan Allah. Pemilik sifat pemaaf ini juga tergolong sebagai orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah swt: (Orang-orang yang bertaqwa adalah) mereka yang menafkahkann (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain.

Allah menyukaii oang-orang yang berbuat kebajikan, (Ali Imron: 134).  Sifat “memaafkan” yang berkedudukan mulia ini merupakan perbuatan bajik yang disukai oleh Allah swt.  Lebih-lebih pemberian maaf tersebut iklas dari lubuk yang paling dalam. “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” – (QS. Al Baqarah : 263)
 
#####
Tradisi lebaran yang didalamnya ada saat bermaaf-maafan dan silaturahmi ini  merupakan bentuk implementasi dari ajaran Islam yang sudah membumi dan di hanyati pemeluknya di Indonesia. Ajaran yang mewajibkan untuk memberikan maaf kepada sesama dan menghubungkan silaaturami menjelma dalam tradisi mudik dan “unjung” (berkunjung). Berkunjung dari rumah ke rumah keluarga besar, kemudian di lingkungan tetangga dan handai toulan untuk saling memberi kabar baik memohon kesalahan bilamana ada kesalahan baik di sengaja atau tidak disengaja.

Bentuk budaya ini hasil dari proses sosial yang berlangsung bertahun-tahun, secara elastis mengambil bentuk dalam tradisi mudik dan berkunjung yang sekarang telah menjadi kekayaan budaya nasional. Proses ini adalah bentuk islamisasi melalui adaptasi dilingkungan sesuai dengan lokalitas yang ada  dimana Islam berada. Tradisi lebaran ini bukti Islam sebagai  rahmat, bahwa pendahulu umat  dahulu yang cerdas dalam melaksanakan dan mewartakan ajaran Islam dalam situasi lokal yang berbeda.
 
Perintah silaturahmi ini sangat jelas. Dalam hadis riwayat Anas bin Malik ra,   Rasulullah saw bersabda:  barangsiapa yang ingin diluaskan rizki dan dipanjangkan umur maka hendaklah bersilaturahmilah  (HR. Al-Bukhari). Dalam Al Quran suci disebutkan  “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. ( QS. An Nisa:1)
 
Dari sisi ekonomi, tradisi lebaran ini juga telah menjadi rahmat bagi bangsa Indonesia, yakni terjadi sarana transfer pendapatan uang dari pusat-pusat pertumbuhan perekonomian ke daerah daerah. Dana yang selama ini terpusat di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, tersebar ke daerah-daerah hingga ke pelosok desa. Pada perayaan Idul Fitri terjadi pergerakan aliran uang dari kota kota besar ke daerah-daerah dengan jumlah sangat besar. Bank Indonesiamencatat jumlah uang yang beredar selama bulan Ramadhan sampai dengan  hari Raya Idul Fitri menembus angka 160,4 triliun rupiah.Angka sebesar ini untuk memenuhi kebutuhan uang tunai selama Ramadhan dan Idul Fitri 2016 yang diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

BI memprediksi, kebutuhan uang (outflow) di bulan Ramadhan sampai dengan Idul Fitri 2016 tembus di Rp160,4 triliun. Realisasi outflow pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2015 atau mencapai Rp140 triliun. Uang sebesar ini dibawa ke daerah daerah oleh para pemudik dari kota-kota besar di Indonesia bahkan dari Negara Negara asing, yaitu dari pahlawan kita tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Mereka membawa uang dan modal lainnya ke desa dan kampungnya untuk dibelanjakan di daerah, untuk kebahagian bersama  keluarga maupun untuk membangun desa.

Di bulan Ramdhan dan Idul Fitri tahun 2016 ini merupakan siklus peredaran jumlah yang tertinggi dalam sembilan tahun terakhir, yang diperkirakan pertumbuhan mencapai 14,7%. Pembayaran gaji pegawai negeri sipil (PNS), TNI dan Polisi yang ke-13 juga menjadi factor pertumbuhan peradaran uang ini.
 
####
Memaafkan berhubungan dengan sikap toleran dan lapang dada. Toleran pada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, baik karena prasangka bahwa perbuatan orang lain itu tidak tepat atau memang perbuatan itu nyata-nyata salah. Hal ini terkait dengan sikap penerimaan kita, sikap lapang dada dan sabar pada waktu terjadi hal hal yang berbeda dengan persepsi kita. Amar ma’ruf tidak harus dengan kekerasan, bahkan dalam perbuatan bajik perlu kerja sama untuk melaksanakan dengan saling nasehat menasehati dalam hal melakukan kebaikan dan kesabaran.  “Demi masa!  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Q.S. Al Ashr: 1-3 ) .
 
Hanya sayangnya, noda sedikit membuat rusak susu sebelanga, Terorisme yang dilakukan mereka yang mengatasnamakan agama, seakan-akan menutup mulianya ajaran Islam yang suci untuk memberi maaf  ini. Tindakan terorisme ini bentuk dari sikap memaksakan  ide dan pikirannya dengan mengatasnamakan ajaran agama, melalui cara-cara kekerasan. Jangan terjebak pada perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama itu sendiri, melalui cara-cara kekekerasan seperti  tindakan penganut komunisme di masa masa jayanya dahulu, yang memaksakan nilai keadilan “sama rata sama rasa” melalui cara-cara kekerasan, atas nama  revolusi yang dianggap sebagai  tuntutan  dari sejarah.
 
Semoga kita tidak tergoda sengan tindakan intoleran dengan tdak memberi maaf ini
 
Selamat hari raya idul fitri 1437 H. 
Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang-orang  yang kembali suci dan beruntung.
Taqabalallahu minna wa minkum
(Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu).
Afwan zahir wal bathin
(Mohon maaf lahir dan batin)
 
Semoga kita dipertemukan kembali Ramadhan yang akan datang. Amiin.(diambil dari setkab.go.id)

Komentar