K I A T

Oleh: lutfil hakim

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://kanalsatu.com/images/20160403-25216_9.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 404 Not Found

Filename: models/post_model.php

Line Number: 248

KIAT, dalam kamus besar bahasa Indonesia,memiliki arti “seni atau caramelakukan”. Lebih ke arah taktik dan strategi. Sebuah upaya menciptakan kondisi menjadi lebih baik. Dalam dunia bisnis, Kiat bisa bermakna kreativitas, terobosan, atau tahapan manajerial cerdik ke arah penguatan fondamen perusahaan ke depan.

Kiat mengandung unsur kepemimpinan dan keberanian mengambil keputusan secara cepat & tepat. Tapi berbasis perhitungan yang cermat. Bukan spekulatif. Ada visi – misi di situ. Banyak korporasi multinasional menjadi besar karena memahami momentum, dan mengambil tindakan besar pada momentum tertentu.

McDonalds Corporation, misalnya, tidak akan sebesar sekarang andai Ray Kroc,  tidak putar haluan diversifikasi usaha restauran cepat saji burger &sandwich, dari sebelumnya bisnis milkshake. Asalnya, Ray Kroc mengusulkan kepada pendiri McDonalds, yakni Richard dan Maurice McDonald, agar menerapkan sistem waralaba (frenchise).

Kroc akhirnya berhasil membeli saham McDonald’s Corporation, setelah sebelumnya menjadi franchisee(pemegang franchise) pertama McDonald’sselama tujuh tahun di Des Plaines, Illinois, USA.Kroc kemudian membuka sejumlah outlet McDonald’s di banyak kota di USA, dan memperluas jaringan ke banyak negara. Jadi, Richard dan Maurice McDonald (pendiri)  yang memiliki visi atau Kiat menjadikan McDonalds sebagai restauran cepat saji, tapi Ray Kroc lah yang punya misi atau Kiat waralaba menjadikan outlet McDonalds ada di mana-mana (kini di 119 negara dengan 33.510 outlet).

Kiat adalah memanfaatkan momentum secara cepat dan tepat. Perusahaan yang sudah besar seperti PT Indofood Sukses Makmur, pun kerap melakukan tindakan besar dengan konsekwensi nilai investasi yang besar pula. Tujuannya adalah penguatan fondasi korporasi ke depan.
Indofood pada 2014berhasil mencatat laba bersih Rp3,88 triliun atau naik 55,2%. Itu terjadi setelah sebelumnya melakukan keputusan besar,yakni mengakuisisi sejumlah perusahaan. Ada juga joint venturemembangun pabrik baru.Indofood berkongsi dengan Tsukishima Food Industry Co Ltd membentuk perusahaan margarin. Juga menuntaskan transaksi atas semua saham PT Pepsi-Cola Indobeverages. 

Pada tahun yang sama, Indofood juga mendirikan industri makanan berbahan baku ikan.Kemudian mengakuisisi usaha Grup Tirta Bahagia yang bergerak di sektor AMDK, dan berpatungan dengan JS Comsa Corporationmembangun industri makanan berbasis tepung adonan.Kiat itu diambil, karena Indofood membaca peluang , ada kesempatan, dan punya harapan besar di masa mendatang.

Kiat adalah cara mengubah kondisi usaha yang mapan statis menjadi dinamis optimistik. Grup Wings Surya, misalnya, sudah cukup mapan walau produknya hanya  “sabun colek” merek Wings. Grup ini sudah menguasai pasar deterjen, saat itu. Namun generasi penerus kelompok usaha ini melakukan kreativitas atau Kiat melahirkan aneka produk toiletries, seiring kian kompleknya kebutuhan konsumen.

Wings Group kemudian bukan hanya kaffah di sektor deterjen, tapi juga agresif menelorkan aneka produk toiletries dengan  aneka merek seperti Giv, Ciptadent, Mama Lemon, So Klin, Daia, dan lainnya. Juga ada merek Smile-Up, Hers Protec, Kodomo, bahkan So Klin sudah ada derivasi variannya yakni So Klin Matic dan So Klin Tenaga Surya. Pendeknya Wings siap melayani konsumen dan siap meladeni pesaingnya. Produknya kini sudah beredar di 90 negara.

Grup Wings juga merambah bisnis properti, perbankan, perkebunan, oleo chemical, dan keramik. Di industri oleo chemical, Wings Surya berkongsi dengan Grup Salim dan Grup Lautan Luas lewat PT Ecogreen. Bisnis Wings Surya semakin lengkap dengan kehadiran perusahaan packaging, PT Unipack, yang merupakan hasil kongsi dengan PT Djarum.

Kiat yang dilakukan oleh Wings Group lazim dilakukan korporasi besar lain dalam membangun tahapan bisnisnya, seperti Lippo Group yang tadinya berbasis usaha perbankan, kini justru besar di bidang properti, rumah sakit, dan media massa. Begitu juga PT Djarum dari industri sigaret ke properti dan perbankan. PT Astra International dari sektor otomotif ke plantation dan finance.
Bahkan tidak sedikit perusahaan menjadi besar namanya justru saat ekspansi ke sektor usaha di luar core business-nya. PT Bhakti Investama yang terlahir sebagai perusahaan underwriter dan fund manager, kini justru moncer berkibar-kibar di sektor media massa (Grup MNC) dan finance.

Praktek hostile takeover, konsolidasi perusahaan, revitalisasi, akuisisi, restrukturisasi, diversifikasi, initial public offering, dan joint venture (kongsi) adalah bagian dari aksi atau Kiat memperkokoh korporasi. Tindakan manajemen seperti itu juga lazim terjadi di usaha-usaha milik negara (BUMN). 
PT Pembangunan Perumahan (PP) yang tadinya berbasis usaha jasa konstruksi, misalnya, kini justru banyak memainkan perannya sebagai developer. Begitu juga PT Rajawali Nusantara Indonesia dengan core business industri gula, tapi juga kuat di sektor farmasi melalui anak usaha – yang bahkan sudah go public – yakni PT Phapros Tbk.
Begitu juga PT Perkebunan Nusantara X (Persero) dengan core businessindustri gula dan tembakau, tapi menguatkan kepak sayapnya di sektor pelayanan kesehatan, industri plastik – seperti karungplastik,inner bag, danwaringplastik. Ada juga sektor agroIndustri dengankomoditi utama kedelaiEdamame, serta industri bioethanol.

Aneka usaha PTPN X  itu dikelola melalui anak perusahaan, antara lain PT Dasaplast Nusantara, PT Nusantara Medika Utama, PT Energi Agro  Nusantara, dan PT Mitra Tani Dua Tujuh. Keempat anak usaha itu terus dikuatkan fondamen-nya, dan terus dikembangkan produk barangnya, maupun jasa pelayanan kesehatan yang menjadi concern-nya.

Konsolidasi, revitalisasi, dan investasi adalah Kiat PT Perkebunan Nusantara X dalam menguatkan fondamen korporasi ke depan. Kultur perusahaan yang tadinya mapan statis didorong ke arah manajemen moderen, dinamis, optimistik. Sedangkan efisiensi  adalah keniscayaan yang dipegang teguh oleh manajemen BUMN di bawah CEO Ir Subiyono MMA tersebut.

BUMN ini (PTPN X) sudah mengeluarkan investasi Rp1.499 trilliun untuk memperkuat seluruh kaki bisnisnya. Beruntung keputusan investasi segera di ekskusi saat itu, ketika nilai tukar rupiah terhadap US Dollar masih di kisaran Rp12.000. Andai keputusan investasi  itu dilakukan saat ini, tentu biayanya akan jauh lebih besar, seiring terus melemahnya (depresiasi) mata uang rupiah terhadap US Dollar. Itulah Kiat. Cepat mengambil keputusan, dan tepat.

Ke dalam core business, alokasi investasi itu juga diarahkan untuk memperkuat sejumlah pabrik gula (PG).  Misalnya PG Kremboong , setelah revitalisasi, mengalami kenaikan  kapasitas dari 1.500 TCD menjadi 2.600 TCD. Begitu juga PG Tjoekir dari 3.600 TCD jadi 4.200 TCD. PG Djombang Baru dari 2.400 TCD menjadi  3.000 TCD, juga PG Modjopanggoong dan PG Meritjan. Seluruh PG itudilakukan elektrifikasi.

Dari Kiat – Kiat tersebut, kini effect positif terhadap kinerja PTPN X secara keseluruhan mulai terlihat nyata, yakni terciptanya efisiesi dan efektivitas produksi. Tingkat efisiensi (overall recovery) mencapai 75 persen. Kini sedang diupayakan 85 persen, agar bisa seperti pabrik gula di luar negeri.  PTPN X juga bekerja keras menekan biaya pokok produksi (HPP) menjadi Rp 6.017 per kilogram. Pada musim giling 2015, seluruh PG milik PTPN X sudah memenuhi SNI. Juga sudah bisa memproduksi gula kristal putih. 

Terkait semua itu, investasi masih akan berlangsung di BUMN tersebut. Terutama dalam upaya menekan tingkat kehilangan gula (sugar losses), memperpendek masa giling tanpa mengurangi produksi gula, dan efisiensi SDM.  PTPN X juga sedang menyiapkan konstruksi co-generation yakni pembangkit listrik berbasis limbah padat tebu atau ampas tebuberkapasitas 50 megawatt dengan nilai investasi Rp296 Milliar. 

Secara terbatas, program pembangkitan listrik ini sebenarnya sudah dijalankan di PG Ngadiredjo. Dengan tambahan investasi diharapkan bisa lebih optimal. Nantinya, proyek co generation akan berada di tiga pabrik yaitu PG Ngadiredjo berkapasitas 20 MW, PG Tjoekir kapasitas 10 MW, dan PG Gempolkrep kapasitas 20 MW. Dengan kapasitas ini, berarti bisa menghasilkan 360 GWH dalam waktu 300 hari. Jika harga listrik biomassa – seperti telah ditetapkan pemerintah bisa dipenuhi, yaitu seharga Rp 1.150 per kWh, maka potensi pendapatan dari co-generation ini bisa mencapai Rp414 milliar.

Kiat memanfaatkan potensi yang ada selalu mewarnai manajemen PTPN X. Potensi kelebihan ampas tebu di pabrik-pabrik milik BUMN ini mencapai 280.000 ton per tahun, sangat potensial untuk pembangkit listrik. Di Brazil, co-generation menggunakan ampas tebu sudah umum dengan rata-rata kapasitas 3.000 MW. Di India juga sudah lazim dengan kapasitas di atas 2.000 MW.PTPN X akan terus ber-Kiat, seperti perusahaan – perusahaan multinasional yang secara terus-menerus melakukan perbaikan dan terobosan.

Sederet strategi yang diterapkan di PTPN X oleh Direktur Utama Ir Subiyono, MMA, terutama yang terkait dengan Kiat atau terobosan diversifikasi usaha itu, mendapat apresiasi tinggi dari kalangan media massa di Jawa Timur yang tergabung dalam organisasi (tertua) profesi jurnalis yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). 

Bukan hanya upayanya di PTPN X, Subiyono bahkan dinilai sebagai tokoh di balik mengemukanya wacana diversifikasi di industri gula nasional, di mana produsen gula terutama di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) didorong untuk tak hanya memproduksi gula saja, tapi juga mengoptimalkan seluruh produk turunan lain seperti bioetanol dari limbah cair (tetes tebu) dan listrik berbasis ampas tebu. Maka itu kategori award yang disandangkan kepada Subiyono adalah Tokoh Korporasi Nasional.

Anugerah PWI JATIM Award itu diserahkan langsung oleh Margiono, Ketua PWI Pusat (didampingi Ketua PWI Jatim Akhmad Munir) pada Rabu malam (30/Maret/2016) bertempat di Gedung Negara Grahadi.(*)

Komentar