Politik Nabi in Question

Oleh: Hatta Zakki (pemerhati politik)

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://kanalsatu.com/images/20151231-152022_79.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 404 Not Found

Filename: models/post_model.php

Line Number: 248

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://kanalsatu.com/images/20151231-152022_791.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 404 Not Found

Filename: models/post_model.php

Line Number: 248

Zoon Politicon, sebutan umum yang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk politik. Sebagian kita malas berhubungan dengan orang yang suka berpolitik. Bahkan ada seruan ‘bijak’ untuk berhati-hati agar tidak berteman dengan mereka, karena berbahaya; namun juga tidak musuhi mereka, karena akan lebih berbahaya lagi. Masuk dunia politik berarti mendifinisikan siapa kawan dan siapa lawan. Apakah demikian citra politik sehingga dianggap jahat, gemar berkelahi dan menghalalkan segala cara?

Politik sebenarnya satu sisi kehidupan yang tak bisa dilepaskan dari kita. Substansinya adalah kepedulian memikirkan nasib sesama guna mencapai tujuan bersama. Selanjutnya terbentuk elit pimpinan dan yang dipimpin. Bila mampu memperjuangkan kehendak bersama maka akan memperoleh dukungan dari pengikutnya. Namun meraihnya tidaklah mudah. Dibutuhkan kegigihan, kecerdikan dan kecakapan untuk memobilisasi kekuatan, kemampuan mengelola konflik dan strategi memenangkan pertandingan. Jadi politik erat kaitannya dengan perebutan pengaruh dan kekuasaan.

Medan politik meliputi semuanya termasuk ekonomi bisnis, penegakan hukum, sosial budaya, idiologi juga agama. Pelakunya bisa dari pertemanan, keluarga, masyarakat, negara sampai hubungan antar negara. Caranya pun beragam dari yang tebar pesona, berlagak pahlawan, sebar opini, penampilan menyeramkan sampai aksi kekerasan ‘Loe jual gue beli’. Namun seringkali kemenangan bermakna kejayaan dan kekalahan berarti kehancuran. Itulah yang membuat wajah politik menjadi buram, zero sum game, kill or to be killed, apapun diraihnya untuk memperoleh kemenangan.

Bagaimana Nabi Muhammad SAW dalam berpolitik, inilah pertanyaan besar kita. Ketika muda beliau diberi gelar al-amin atau yang dipercaya; kemampuannya mencari titik temu terbaik menyatukan suku-suku arab yang bertikai. Setelah ada risalah dakwah beliau diolok-olok penduduk Thaif namun tidak membalasnya; tetangga melempari kotoran saat ke masjid pun tak digubris sampai tau kalau sakit dan Nabi menjenguknya. Dan cerita orang buta yang selalu menghina; setelah Nabi wafat dia baru sadar bahwa yang dibenci selama ini adalah yang selalu menyapinya. Beliau pernah ditawari kekuasaan politik dan kekayaan, tapi ditolaknya. Di sisi lain Nabi mengalami 32 kali peperangan dan 27 kali terlibat langsung, baik perang besar maupun kecil. Banyak sejarahwan mengatakan bahwa era itu adalah perkembangan peradaban tercepat dalam sejarah (the fastest developing civilization). Dalam tempo kurang dari 30 tahun hampir seantero jazirah arab memeluk Islam.   

Apa yang diperbuat Muhammad SAW bukanlah mencari kekuasaan untuk kekuasaan, mengalahkan untuk meghancurkan. Beliau tak tertarik godaan dunia, pembelaan kelompok apalagi menaikan popularitas dan mendatangkan rizki. Kehadirannya seperti juga nabi - nabi sebelumnya yaitu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (syahidan, mubasyiron, wa nadziiron; Al Fath 48:8). Allah menurunkan utusanNya sebagai rahmat bagi semesta alam; “wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘aalamin”. (Al-Anbiyaa' 21:107). Itulah grand design dari Allah SWT yang rohman rohim yang dibangun melalui syahadat, syariat dan akhlak manusia. Wilayah ini yang menjadi core Nabi dalam perjuangan dakwahnya.

Syahadat membuka kesadaran hakiki bahwa Allah yang menciptakan kehidupan, rohman rohim, maha mendengar dan melihat serta berkuasa atas segala sesuatu. Syahadat bukan sekedar pengetahuan apalagi paksaan; tapi gerakan impresif pencarian, pembuktian dan kesaksian jiwa. Dengan merasakan kehadiran Allah, mengakui kebesaranNya dan kita hadir sebagai hamba menjadi sumber dari segala kebaikan, kesadaran, ketenangan dan kekuatan. Keberhasilan Nabi berdakwah tentu tak lepas dari kesempurnaan keyakinannya (syahidan). Ibarat pepatah ma khoroja minal qolb washola ilal qolb (sesuatu yang keluar dari hati akan sampai ke hati). Dengan bahasa keimanan beliau dan hidayah Allah mampu merombak secara dramatis setting pikiran dan hati umat. Pengukuhan akidah yang separuh lebih masa kerosulan ini menjadi pondasi umat sehingga terbentuk ketulusan, sami’na wa atho’na dan semata mencari ridho Allah.

Syariah memberi aturan dan pelaksanaan untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik ibadah ritual maupun muamalah kemasyarakatan. Rujukan bakunya adalah Al Qur’an dan Sunnah Nabi agar sesuai yang diharapkan dan tidak menyimpang dari ajaran. Kehadiran beliau juga sebagai uswah hasanah (QS. al-Ahzab 33:21) untuk menyempurnakan akhlak manusia (Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak; HR. Ahmad). Kita diharapkan menjadi khoiru ummah  (QS. Ali 'Imran 3:110); karena kepeduliannya menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Memahami di dunia hanyalah sesaat menjadikan kita harus berbuat terbaik menjadi abdillah sekaligus khalifah fil ard.

Begitulah gelombang besar menjadi muslim karena merasakan kemulyaan Islam. Kalangan budak yang terbelakang menjadi terbangkitkan bahwa manusia pada hakikatnya sama. Kelas ataspun menyadari posisinya dan mendapat pencerahan luar biasa; mereka rela mengorbankan harta dan jiwanya. Kesadaran hidup membuat semua bergerak lebih cepat, bekerja lebih keras dan bertindak lebih cerdas (faster, harder & smarter). Seolah meringkas waktu, Nabi sangat efisien menjalankan tugasnya sebagai utusan Allah. Juga para sahabat dan salafussoleh mampu menterjemahkan ‘pesan agama’ dalam kehidupan yang multi dimensi, bahkan menjadi terdepan di zamannya.

 Namun perjuangan Nabi tidaklah mudah. Dibutuhkan kesabaran, kekuatan akhlak juga ketegasan. Setiap langkahnya terbimbing dan jauh dari syaitan yang menjadi musuh nyata dalam peta besar konstalasi politik makhluk Allah (Al Baqarah 2:168). Selanjutnya ada empat cara dalam berdakwah: a). terhadap sesama muslim, masyarakat umum dan para pencari kebenaran, maka bersikap lembut dan bil hikmah (Ali 'Imran 3:159 / An Nahl 16:125); b). terhadap non muslim yang belum tersentuh hidayah namun tidak mengganggu, maka bersikap toleransi dan tidak ada paksaan dalam agama (laakumdi nukum waliadin; Al Kaafiruun 109:6 dan laa ikro hafiddin; Al Baqarah 2:256); c). terhadap non muslim yang gencar berpolitik bahkan membahayakan keselamatan dan memerangi Islam, maka berlaku hukum ‘Loe jual gue beli’; d) terhadap munafiqin yang merusak dari dalam dengan mencampur adukkan yang hak dan bathil, maka harus tegas untuk diluruskan (Al Baqarah 2:42). Sesungguhnya Allah menyuruh kita berlaku adil dan berbuat kebajikan; Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan (An Nahl 16:90).

Dalam konteks kekinian dimana kemajuan komunikasi dan transportasi membuat bumi yang dulu begitu luas seakan menjadi kecil (global village). Dunia terintegrasi, kejadian di seberang dapat diketahui dan berpengaruh langsung di belahan lain. Semua sekat terbuka dan berbagai menu berita tersaji melimpah. Bila tak dapat menyikapi secara baik maka harimau akan menghina gajah, dan gajahpun merendahkan semut. Tidak ada satupun yang luput dari kritikan, bahkan saling mengecilkan peran. Harusnya kita tidak tercerai berai dan mudah dibenturkan. Kita perlu memahami posisi dan kontribusi sesama, serta ta’awun dalam kebaikan dan taqwa (Al Ma’idah 5:2). Setidaknya kesadaran iman membuat kita bergegas menuntaskan ‘pekerjaan rumah’. Apapun bentuk dakwahnya, asal tidak kemasukan syaitan dan tetap mencari ridho Allah semata. Figur Nabi bagaimanapun sulit dicari bandingannya, meski kita merindukan sosok seperti beliau. Allahumma shooli’ala Muhammad.(*)

 

Komentar