Industrialisasi dan Transformasi Ekonomi

Oleh: Eddy Cahyono, Tenaga Profesional Pada Kantor Kepala Staf Presiden

Kemajuan ekonomi suatu bangsa  dapat dicermati dari  seberapa besar konstribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonominya. Industri dan pertumbuhan ekonomi  ibarat dua sisi mata uang,  karena industri identik dengan nilai tambah, transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi.

Pada beberapa negara yang tergolong maju, peranan sektor industri  lebih dominan dibandingkan dengan sektor lainnya,  sektor industri memegang peran kunci sebagai mesin pembangunan  ekonominya.

Peran strategis sektor industri sebagai mesin pembangunan ekonomi, bukan tanpa alasan, karena sektor industri akan membawa dampak turunan, yakni meningkatnya nilai kapitalisasi modal, kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar, serta kemampuan menciptakan nilai tambah (value added creation) dari setiap input atau bahan dasar yang diolah.

Kemajuan ekonomi China dan Korea Selatan setidaknya memberikan pelajaran berharga, terhadap pilihan strategi  pembangunan ekonomi yang menjadikan industrialisasi sebagai salah satu pilar, yang berkonstribusi memacu  tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto China yang mencapai 10 persen setiap tahunnya dengan pertumbuhan industrinya mencapai 17 persen.  Kehebatan ekonomi China sejatinya merupakan buah dari program reformasi ekonomi yang dimulai pada 1979 oleh Deng Xiaoping, yang meletakkan dasar bagi sistem ekonomi yang memungkinkan pasar bebas dan industri kecil di pedesaan berkembang pesat di seluruh negeri.

Jauh sebelumnya, Mao Zedong dan Zhou Enlai  telah  membangun fondasinya, melalui pencanangan program The Great Leap Forward (Lompatan Besar ke Depan) pada 1958. Mereka berharap China menjadi negara industri maju dalam waktu singkat.  Titik beratnya adalah pembangunan ekonomi yang berfokus pada industri mesin dan baja,  juga produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus ekspor.Samsun

Korea Selatan merupakan contoh kemajuan bangsa lainnya yang menjadikan industri sebagai  motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 1950 Korsel merupakan salah satu negara termiskin di dunia, ekonominya hanya bersandar pada sektor pertanian, Namun dengan strategi industrialisasi yang diterapkan kemajuan ekonomi Korea Selatan berlangsung pesat.

Kesuksesan Korea Selatan melakukan pembangunan negaranya secara mudah dapat dilihat dari peningkatan indikator Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita dari tahun 1960 sampai 2012.  PDB perkapita Korea Selatan mengalami kenaikan sekitar 14,6 kali lipat. Ini merupakan lompatan terbesar yang pernah dicapai dalam pembangunan ekonomi suatu negara di dunia sampai saat ini.

Tahun 1963, PDB perkapita Korea Selatan Cuma $100, tahun 1995 telah mencapai 10.000  dollar AS, dan tahun 2007 meningkat menjadi 25.000 dollar AS. Produk-produk elektronik Korsel, Samsung dan LG telah menguasai dunia, dari ponsel canggih, televisi plasma, LCD sampai semikonduktor. Industri pembuatan kapal Korsel, Hyundai dan Samsung Heavy Industries juga menunjukkan kedigdayaannya.

Ekonomi Korsel juga dibangun dengan sokongan industri-industri standar negara berkembang, tekstil, sepatu, industri berat dan strategis, baja, otomotif, perkapalan, pemerintah Korsel  memberikan dukungan yang kuat untuk dunia usaha, infrastruktur, pajak yang rendah untuk industri unggulan.

Belajar dari kemajuan ekonomi China dan Korsel,  data historis menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan kata kunci dalam mengenjot kemajuan ekonomi suatu bangsa. Industrialisasi, selain dapat meningkatkan arus masuk investasi,  juga akan membuka lapangan kerja baru seluas-luasnya dan menciptakan multiplier effect  di sektor perdagangan.

Industrialisasi dan masa depan Ekonomi  Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai sumber daya alam melimpah dan sumber daya manusia yang besar, potensi yang dimiliki Indonesia itu selain dapat menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi anak bangsa, juga akan  mempercepat transformasi negeri ini menjadi negara maju.

Dengan sumber daya alam (SDA) yang beragam serta angkatan kerja dan pasar yang besar, sangat terbuka pilihan Indonesia untuk industrialisasi. Era comodity booming: harga minyak, kayu, dan mineral dan pertambangan (minerba) harus segera diakhiri, saatnya kita meningkatkan processing ekspor bahan mentah (hilirisasi) sebagai strategi substitusi ekspor.

Kita patur bersyukur industrialisasi menjadi strategi dalam Nawa Cita, yang didorong pengembanganya dengan orientasi pada upaya meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional,  serta mewujudkan kemandirian ekonomi, dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Presiden Jokowi dalam kesempatan berdiskusi dengan para ekonom, di Istana Negara, Jakarta, 13 November 2015 lalu, kembali menekankan pentingnya industrialisasi, sebagai langkah efektif dalam membuka lapangan kerja serta menggenjot ekspor sekaligus mengatasi masalah defisit neraca  perdagangan.

Dari kemajuan pembangunan ekonomi China dan Korsel serta refleksi dari perjalanan panjang pembangunan ekonomi Indonesia, setidaknya kita dapat menarik pelajaran berharga untuk menjadikan industrialisasi  sebagai pionir pembangunan ekonomi. Kita perlu mendukung secara optimal percepatan transformasi fundamental ekonomi dari yang semula selalu bertumpu pada konsumsi, penjualan komoditi dan bahan mentah menjadi fokus ke produksi, investasi dan industrialisasi.

Mengingat secara historis peran Industri Manufaktur dalam PDB  Indonesia telah merosot secara persisten, salah satu persoalan mendasar yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi relatif tinggi tidak berkelanjutan, bahkan cenderung melemah, adalah derap industrialisasi yang meredup.

Setelah krisis 1998, pertumbuhan sektor industri manufaktur hampir selalu lebih rendah ketimbang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Sebelum krisis 1998, pertumbuhan industri manufaktur sempat dua kali lebih tinggi daripada pertumbuhan PDB. Setelah mencapai tingkat tertinggi pada 2001 sebesar 29 persen, sumbangsih industri manufaktur terus merosot sampai mencapai titik terendah pada triwulan II 2015 sebesar 20,9 persen.

Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur juga  belum mampu menjadi exit strategi dalam mengatasi masalah pengangguran. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah angkatan kerja 2015 tercatat menjadi 122,38 juta orang. Jika dibandingkan dengan posisi Agustus 2014 yang sebanyak 121,87 juta jiwa, angkatan kerja bertambah bertambah 510 ribu orang. Secara persentase, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2015 menjadi sebesar 6,18 persen, naik dari 5,94 persen pada Agustus 2014.

Pengembangan yang masif indusrialisasi, utamanya padat modal diharapkan dapat mengatasi masalah pengangguran penyerapan tenaga kerja, seperti industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki  dan industri ekonomi kreatif  (mebel dan kerajinan), industri perikanan dan pertanian  dan industri yang berbasis ekonomi kerakyatan.

Para pemangku kepentingan diharapkan dapat fokus pada upaya penanganan beberapa isu strategis yang dapat menganggu akselerasi pengembangan industrialisasi di Indonesia, utamanya terkait isu kepastian  dan kenyamanan investor,   dengan mengatasi masalah anarkisme buruh, percepatan perizinan, memastikan berbagai regulasi dan insentif  teraplikasi ditingkat operasional.

Peningkatan peran industri menjadi sangat penting, jika Indonesia ingin bergerak lebih maju,  sektor manufaktur harus tumbuh dan menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas perekonomian, sekaligus solusi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat, karena industrialisasi sering dikaitkan dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial.

Industrialisasi diyakini dapat menjadi alternatif solusi dalam mengatasi tingkat kemiskinan yang tinggi, jumlah pengangguran yang besar terutama dari golongan masyarakat berpendidikan rendah, ketimpangan distribusi pendapatan, dan proses pembangunan yang tidak merata antara kota dan desa. Peningkatan daya saing industri secara berkelanjutan dapat membentuk landasan ekonomi yang kuat berupa stabilitas ekonomi makro, iklim usaha dan investasi yang sehat sehingga dapat dijadikan salah satu pilar pembangunan ekonomi nasional.

Oleh karena itu sektor industri perlu diarahkan agar memiliki daya saing yang tinggi karena kuatnya struktur, tingginya peningkatan nilai tambah dan produktivitas di sepanjang rantai nilai produksi, dan dukungan dari seluruh sumber daya produktif. Upaya membangun keterkaitan industri hulu-hilir perlu terus ditingkatkan, hal ini tentunya membutuhkan kesepahaman dan kesamaan visi  industrialisasi dengan membangun sinergi antar pemangku kepentingan K/L baik di pusat dan daerah.

Besarnya investasi dan pelibatan kalangan investor perlu terus diimbangan dengan deregulasi di bidang perizinan dan prosedur investasi serta pengembangan pelayanan satu atap agar “kelenturan” birokrasi dalam mendukung percepatan industrialisasi dapat berjalan optimal.

Kerja keras dan fokus perlu terus diupayakan agar target pertumbuhan dan peningkatan kontribusi sektor industri sebagaimana yang telah digariskan dapat dicapai dengan memberi perhatian khusus terhadap peningkatan kualitas SDM melalui peran aktif menyukseskan program pendidikan formal mapun non-formal seperti balai latihan kerja (BLK) dan alih teknologi yang menjadi kata kunci suksesnya industrialisasi.

Sikap optimistis perlu terus ditumbuhkan, pondasi ekonomi yang telah dibangun, agar dapat menjadi pijakan dalam transformasi ekonomi, sehingga mampu meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia merebut peluang pasar pemberlakuan MEA 2015 dan mengantarkan kejayaan ekonomi Indonesia. Semoga.(setkab.go.id)

Komentar