Potret daya saing Logistik Indonesia

Oleh: Yusuf Munandar*)

Berdasarkan survei Bank Dunia, pada tahun 2014 biaya logistik nasional cukup besar yaitu 24% dari Produk Dometik Bruto sehingga direncanakan turun menjadi 16% pada tahun 2019, menyamai biaya logistik nasional di Thailand. Untuk dapat mencapai angka 16% tersebut terlebih dulu harus diketahui permasalahan apa yang terjadi pada sistem logistik Indonesia. Dan salah satu cara untuk menemukan masalah pada sistem logistik Indonesia adalah dengan membandingkan kinerja logistik Indonesia dengan kinerja logistik negara lain, dimana salah satu alat untuk mengukur kinerja logistik adalah Logistics Performance Index (LPI) yang disusun oleh Bank Dunia.

LPI mengukur efisiensi on-the-ground rantai suplai perdagangan atau kinerja logistik. Rantai suplai merupakan tulang punggung perdagangan dan bisnis internasional. Sementara biaya logistik meliputi biaya transportasi, pergudangan, clearance perbatasan, sistem pembayaran dan fungsi-fungsi terkait lain. Survei untuk menghitung skor LPI sudah dilakukan 4 kali yaitu tahun 2007, 2010, 2012 dan 2014. Skor LPI memiliki skala dari terrendah yaitu nol sampai tertinggi yaitu lima.

Terdapat 6 indikator LPI yang terbagi dalam dua kategori yaitu kategori area untuk peraturan/kebijakan yang menunjukkan input utama kepada rantai suplai (supply chain) yaitu meliputi customs, infrastruktur, dan kompetensi/kualitas jasa logistik, dan kategori outcome kinerja jasa (service delivery performance outcomes) yang meliputi timeliness, international shipments dan tracking and tracing.

Indikator customs menunjukkan seberapa besar efisiensi customs (kepabeanan) dan pemeriksaan perbatasan (border clearance). Indikator infrastruktur menunjukkan kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi. Indikator pengangkutan internasional (international shipment) atau kemudahan dalam melakukan pengangkutan (ease of arranging shipments) menunjukkan seberapa besar kemudahan dalam melakukan pengangkutan dengan harga yang bersaing. Indikator kompetensi logistik atau kualitas jasa logistik menunjukkan seberapa tinggi kompetensi atau kualitas jasa logistik seperti pengangkutan menggunakan truk, ekspedisi atau forwarding, dan perantara kepabeanan (customs brokerage). Indikator tracking and tracing menunjukkan seberapa besar kemampuan untuk melacak dan mengikuti barang-barang dalam pengiriman. Terakhir, indikator timeliness menunjukkan frekuensi atau seberapa sering pengangkutan dapat sampai kepada tujuan (consignee) sesuai dengan waktu yang diharapkan atau dijadwalkan.

Perbandingan LPI Indonesia Dalam 4 Tahun

Apabila melihat skor LPI Indonesia selama 4 tahun (2007, 2010, 2012 dan 2014), terlihat bahwa terjadi peningkatan yaitu dari sebesar 3,01 pada tahun 2007, turun menjadi 2,76 di tahun 2010, naik sedikit dari 2007 yaitu menjadi 2,94 di tahun 2012 dan pada tahun 2014 skor LPI Indonesia adalah sebesar 3,08.

Akan tetapi apabila melihat rangking LPI Indonesia selama 4 tahun tersebut, maka terlihat terjadinya penurunan yaitu dari rangking 43 di tahun 2007, turun drastis menjadi 75 di tahun 2010, naik sedikit dari tahun 2007 yaitu 59 di tahun 2012 dan pada tahun 2014 rangking LPI Indonesia adalah 53 dari 160 negara yang disurvei. Artinya bahwa kinerja logistik Indonesia dalam jangka waktu 2007-2014 mengalami perbaikan, tetapi kinerja logistik negara-negara lain mengalami perbaikan lebih cepat atau lebih besar.

Dilihat dari indikator LPI, hanya 4 dari 6 indikator yang dalam jangka waktu 2007-2014 mengalami peningkatan skor atau perbaikan kinerja. Peningkatan kinerja logistik tertinggi jatuh pada indikator kompetensi logistik yaitu meningkat sebesar 0,31. Disusul indikator: timeliness (0,25), customs (0,14), dan infrastuktur (0,09). Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 2007-2014 kompetensi dan kualitas jasa logistik seperti pengangkutan menggunakan truk, ekspedisi atau forwarding, dan perantara kepabeanan (customs brokerage) di Indonesia meningkat cukup pesat, demikian juga frekuensi ketepatan waktu barang sampai di tujuan dan kinerja kepabeanan dan pemeriksaan perbatasan cukup meningkat, sementara kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi meningkat sedikit saja.

Dua indiktor lain menurun kinerjanya yaitu tracking and tracing (-0,19) dan international shipments (-0,18) yang menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 2007-2014 ternyata makin sulit melacak dan mengikuti barang dalam pengiriman di Indonesia dan makin sulit untuk melakukan pengangkutan barang di Indonesia dengan harga yang bersaing atau kompetitif dibanding negara lain.

Kinerja Logistik Indonesia Tahun 2014: Consistent Performers

Bank Dunia membagi skor LPI ke dalam 4 kategori: logistics unfriendly untuk skor LPI 0,00 sampai sekitar 2,35 meliputi negara-negara dengan hambatan logistik yang cukup parah seperti pada negara-negara kurang berkembang (least developed/lower income countries) yang dalam skor LPI termasuk dalam kuintil terbawah/kelima, partial performers untuk skor LPI sekitar di atas 2,35 sampai 2,90 meliputi negara dengan tingkat hambatan logistik pada negara-negara lower dan upper middle income contries yang dalam skor LPI termasuk dalam kuintil ketiga dan keempat, consistent performers untuk skor LPI di atas 2,90 sampai sekitar 3,50 meliputi negara-negara dengan tingkat kinerja logistik lebih tinggi dari negara lain dalam kelompok pendapatan yang sama yang dalam skor LPI termasuk dalam kuintil kedua, dan logistics friendly untuk skor LPI 3,50 sampai 5,00 meliputi negara-negara dengan kinerja logistik tertinggi dari negara-negara dengan pendapatan tertinggi (high income countries) yang dalam skor LPI termasuk dalam kuintil teratas. Demikian, dengan skor LPI total Indonesia sebesar 3,08 maka Indonesia termasuk kategori consistent performers.

Perbandingan LPI Indonesia dengan LPI Jerman

Apabila dibandingkan dengan Jerman yang memiliki skor LPI total tertinggi pada tahun 2014 yaitu 4,12 (rangking 1 dari 160 negara), maka Indonesia bisa belajar dalam hal indikator infrastruktur (skor 4,32 rangking 1) dan tracking and tracing (skor 4,17 rangking 1) yang memiliki skor dan rangking tertinggi. Untuk indikator customs dan kompetensi logistik, Indonesia dapat mengacu kepada Norwegia karena memiliki skor dan rangking tertinggi yaitu skor 4,21 rangking 1 (customs) dan skor 4,19 rangking 1 (kompetensi dan kualitas logistik). Sementara untuk indikator international shipments dan timeliness, Indonesia dapat mengacu kepada Luksemburg dimana skor untuk international shipments adalah sebesar 3,82 (rangking 1) dan skor timeliness adalah sebesar 4,71 (rangking 1).

Perbandingan LPI Indonesia dengan LPI Negara Asia Timur dan Pasifik

Apabila dibandingkan secara regional (Asia Timur dan Pasifik/ATP), maka Indonesia memiliki kinerja logistik lebih baik dibandingkan dengan kinerja logistik rata-rata negara-negara di Asia Timur dan Pasifik. Skor LPI total Indonesia adalah 3,08 sementara skor LPI negara-negara ATP adalah 2,85. Demikian juga untuk seluruh indikator LPI, Indonesia memiliki skor yang lebih tinggi dibanding skor rata-rata negara-negara ATP, yaitu: (a) customs, Indonesia:2,87, ATP:2,69, (b) infrastruktur, Indonesia:2,92, ATP:2,74, (c) international shipments, Indonesia:2,87, ATP:2,87, (d) kompetensi logistik, Indonesia:3,21, ATP:2,79, (e) tracking and tracing, Indonesia:3,11, ATP:2,84, (f) timeliness, Indonesia:3,53, ATP:3,17.

Perbandingan LPI Indonesia dengan LPI Lower Middle Income Countries

Sementara apabila dibandingkan dengan negara-negara pada kelas pendapatan yang sama yaitu lower middle income countries (LMIC), maka skor LPI total Indonesia lebih tinggi yaitu 3,08, sementara skor LPI total rata-rata LMIC adalah 2,59. Demikian juga untuk seluruh indikator LPI, Indonesia memiliki skor yang lebih tinggi dibanding skor rata-rata negara-negara LMIC, yaitu: (a) customs, Indonesia:2,87, LMIC:2,40, (b) infrastruktur, Indonesia:2,92, LMIC:2,38, (c) international shipments, Indonesia:2,87, LMIC:2,62, (d) kompetensi logistik, Indonesia:3,21, LMIC:2,56, (e) tracking and tracing, Indonesia:3,11, LMIC:2,64, (f) timeliness, Indonesia:3,53, LMIC:2,91.

Perbandingan LPI Indonesia dengan LPI Negara-Negara ASEAN

Berdasarkan data dari The World Bank (2014): Connecting to Compete 2014 – Trade Logistics in the Global Economy: The Logistics Performance Index and Its Indicators, kinerja logistik Indonesia berada di tengah di antara negara ASEAN-tanpa Brunei Darussalam. Skor rata-rata LPI negara ASEAN-tanpa Brunei Darussalam sangat mendekati skor LPI Indonesia yaitu 3,07. Lima negara yaitu Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina berada pada kategori consistent performers sementara Kamboja dan Laos berada pada kategori partial performers. Dua negara dengan kinerja logistik sangat timpang adalah Singapura (kategori logistics friendly) dengan skor LPI 4,00 dan rangking 5 dari 160 negara dan Myanmar (kategori logistics unfriendly) dengan skor LPI 2,25 dan rangking 145.

Penutup

Beberapa fakta di atas menunjukkan kurangnya proses konvergensi di antara negara-negara ASEAN khususnya di bidang logistik sehingga menjadi tantangan dalam mencapai cita-cita menciptakan negara ASEAN yang adil, makmur dan sejahtera yang hendak dicapai salah satunya melalui wadah Asean Economic Community (AEC). Bagi Indonesia, angka-angka di atas menunjukkan bahwa kinerja logistik tahun 2014 mengalami perbaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya tetapi perbaikan tersebut kurang cepat, kurang besarannya dan kurang menyeluruh dibuktikan dengan indikator tracking and tracing dan international shipments yang menurun.(setkab.go.id)

*) Pegawai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan merupakan sikap instansi tempat penulis bekerja.

Komentar