Misteri di balik prosesi Pilkada Surabaya

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://kanalsatu.com/images/20150903-24423_01.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 404 Not Found

Filename: models/post_model.php

Line Number: 248

Oleh Ferry Soe Pei

Kolumnis kanalsatu.com

Pertarungan Pemilihan Kepala Daerah Kota Surabaya belum juga memunculkan kata akhir. Digelar Desember 2015 seperti ‘kemauan’ penguasa di Jakarta, mundur 2017 sesuai UU Pilkada dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) 2015 yang sudah disahkan.

Setelah batal mendapat lawan karena pasangan calon Walikota Dhimam Abror Djuraid & Wakil Walikota Haries Purwoko urung mendaftar, upaya ‘pemaksaan’ kembali menemui jalan buntu. Pasangan pengganti calon Walikota Rasiyo-Wakil Walikota Dhimam Abror Djuraid yang diusung Partai Demokrat-PAN, juga gagal. Akibatnya, pasangan petahana Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana, kembali galau, karena tidak ada lawan.

Kegagalan pasangan petahana yang diusung ‘sorangan wae’ Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu memang terbentur soal syarat administrasi yang belum dilengkapi oleh pasangan lawan. Meski sekadar administrasi, tetapi sangat vital. Bahkan KPU Surabaya membatalkan pendaftaran calon pasangan yang sebenarnya juga populer tersebut.

Sengkarut pendaftaran calon kepala daerah di Pilkada Kota Surabaya memang sudah terjadi sejak awal. Sejumlah kalangan bahkan menuding KPU ikut bermain dengan memaksa menerima berkas pendaftaran pasangan Rasiyo-Abror hanya berdasar rekomendasi Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kota Surabaya.

Padahal, berkas pendaftaran, berupa rekomendasi DPP PAN, hanya sebuah cetakan hasil pemindaian yang dikirim lewat surat elektronik (email). Seharusnya, sejak saat itu, KPU memutuskan menolak pendaftaran Rasiyo-Abror. Sebab, PKPU sudah tegas menetapkan syarat rekomendasi harus asli ditandatangai ketua umum dan sekretaris jendral partai politik, serta distempel basah.

KPU faktanya bergeming. Keputusannya tak lekang meski ramai dituding ‘ikut bermain’ memaksa Pilkada Kota Surabaya harus digelar 2015. Hingga menjelang pengumumam verifikasi berkas pasangan Rasiyo-Abror, sang petahana diam seribu basa. Tak ada komentar secuilpun soal tudingan terhadap KPU.

Diamnya Risma, yang disebut-sebut salah satu walikota terbaik ketiga di dunia, bisa dipahami, karena langkah KPU juga berarti menguntungkan Risma-Wisnu. Pasangan yang sempat berseteru saat Wisnu dituding berniat menggulingkan Risma beberapa tahun lalu itu diprediksi tak bisa ditumbangkan siapapun jika Pilkada digelar Desember 2015. Bahkan ‘sesumbar’ bakal meraih suara 90% lebih.

Mulai ‘Berkicau’

Namun, Risma dan Wisnu langsung ‘berkicau’ tatkala KPU Kota Surabaya pada akhirnya mengambil keputusan pendaftaran Rasiyo-Abror tidak memenuhi syarat. Akibatnya, pasangan Risma-Wisnu kembali ‘sorangan wae’, ‘sing ada lawan’. Sesuai aturan, Pilkada Kota Surabaya seharusnya dilaksanakan 2017.

Tudingan sinis pun kembali muncul, diarahkan kepada kalangan yang dianggap tidak menghendaki terlaksananya Pilkada Surabaya pada 2015. Bahkan bahasa vulgar seperti jagal politik, begal hak demokrasi rakyat, atau pengganjal pembangunan, pun ramai kembali.

Risma, meski terkesan malu-malu, tetapi sudah berani menilai ada yang aneh dengan keputusan KPU Kota Surabaya. Wisnu Sakti Buana, pasangan Risma bahkan terang-terangan menuding KPU Kota Surabaya sengaja menjegal keikutsertaannya dalam Pilkada Serentak 2015 dengan cara tidak baik saat melakukan verifikasi dokumen Rasiyo-Abror.

“Saya kira saat ini semua elemen di Surabaya terlibat. Kemarin partai politik, sekarang KPUD juga jadi begal. Panwas sudah meminta agar rekomendasi diverifikasi faktual, tetapi tak dilakukan KPU. Akibatnya, rekomendasi tersebut dianggap tak sah,” kata Wisnu Sakti Buana seusai menghadiri sidang gugatan UU Pilkada di Mahkamah Konstitusi di Jakarta, Selasa (1/9/15).

Salah Pilih Simbol

Kasak-kusuk pun beredar di kalangan masyarakat seputar terancamnya Risma-Wisnu pada Pilwali 2015. Mulai dari yang bersifat politis hingga irasional, mistis - misteri. Seperti munculnya ‘sosok aneh’ pada rombongan pengiring Risma-Wisnu saat mendaftar di KPU. Mungkin tidak banyak yang sadar, termasuk Risma sendiri, bahwa simbol banteng pada pengiring itu, kalau dicermati seksama, sama-sekali tak menggambarkan simbol banteng. Kesan yang nampak justru ‘simbolik tokoh’ -  seperti yang tertuang dalam sebuah buku Codex Gigas.

Manuskrip Codex Gigas.

Banyak yang menyebut, kegagalan pertama saat pasangan Abror-Haries batal mendaftar adalah berkat doa Risma sendiri yang dikabulkan Allah SWT –di mana Risma pernah statemen “Sudah capek mengurus Kota Surabaya, ingin mundur dan tidak akan maju pada Pilwali 2015”.

Sedangkan pada kegagalan kedua, setelah KPU membatalkan pasangan Rasiyo-Abror, kasak-kusuk sebagian warga pun diarahkan kepada sosok aneh pengiring Risma-Wisnu saat pendaftara di KPU, yakni kesan simbolik Codex Gigas. Sebab, jika sosok serba hitam itu dianalogikan sebagai simbol banteng, sosoknya tidak nampak sama sekali. Paling hanya visualisasi tanduk, mata merah dan bibir putih. Fisiknya sama sekali tidak bisa menggambarkannya sebagai seekor banteng.

Sebaliknya, tampilan visualnya justru mendekati sosok yang ada pada manuskrip Codex Gigas. Fisik layaknya manusia, bertanduk dan mata merah serta secarik kain yang hanya menutupi alat vitalnya. Siapa sosok yang ada dalam Codex Gigas itu?

Laman Wikipedia menyebut, Codex Gigas yang dalam bahasa Inggris berarti Buku Raksasa adalah manuskrip terbesar abad pertengahan. Codex Gigas juga dikenal sebagai ‘Kitab Suci Setan’, karena terdapat ilustrasi bergambar setan dan legenda penciptaan setan pada Codex tersebut. Meskipun terdapat legenda yang melibatkan iblis, manuskrip itu tidak dilarang oleh inkuisisi (pengadilan Gereja Katolik Roma terhadap bidaah) dan dipelajari banyak ahli.

Awalnya, manuskrip Codex Gigas terdiri dari memiliki 320 lembar naskah. Namun, delapan lembar diantaranya dibuang tanpa diketahui pelaku dan tujuan membuangnya. Ada dugaan kedelapan lembar yang dibuang itu berisi aturan-aturan yang diterapkan di Biara Ordo Benediktus.

Biara Ordo Benediktus sendiri telah dihancurkan pada abad ke-15. Catatan yang ada pada Codex Gigas menunjukkan, pembuatannya sekitar tahun 1229 Masehi. Setelah penulisannya, Codex Gigas kemudian dipindahkan ke Biara Cistercians Sedlec dan akhirnya dibeli Biara Benediktus di Byoevnov.

Emoh Jadi Walikota

Dalam kacamata sedikit mistis, hambatan demi hambatan Risma dalam perjuangan meraih kursi walikota pada masa jabatan kedua berasal dari hati sendiri. Siapapun mungkin tak lupa pada komitmen saat berseteru dengan Wisnu hingga ancamannya mundur sebagai walikota dan emoh mencalonkan lagi sangat menggaung secara nasional.

Ucapannya yang masuk dalam kategori ‘doa’ juga mencerminkan kegalauan hati Risma memimpin Kota Surabaya. Lelah dan menguras pikiran menghantui langkahnya melaksanakan tanggungjawab sebagai pemimpin kota kedua terbesar di Indonesia.

Risma bahkan ‘menjual’ tangisnya hingga ke Jakarta, menemui Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso dan menangis sesengukan di hadapan jutaan pemirsa Mata Najwa. Sebuah sikap melankolis yang pada akhirnya mendatangkan simpati dari seluruh penjuru wilayah negeri ini, karena menilai sebagai sosok bersih yang teraniaya ‘politikus’.

Dan yang paling berat adalah janji atau sumpahnya sendiri untuk menjalankan amanat ayahanda yang menginginkan Risma meneruskan karir pegawai negeri sipil dan menjauhi dunia politik. Sebuah janji pada ayahanda yang akhirnya diingkari Risma begitu memilih bergabung dengan PDI Perjuangan. Memantapkan diri sebagai seorang politikus ketimbang tawadhu pada titah ayahanda.

Terakhir, mungkin tidak disadari tetapi vital adalah kesalahan memilih simbol dalam langkah awal perjuangan politiknya saat mendaftar ke KPU. Memang asumsif. Setiap orang bisa saja menilai simbol yang mengiringinya sesuai pemahaman masing-masing.

Namun, amat mudah menilai simbol serba hitam dan bertanduk yang berjalan di sisi kanan becak yang ditumpanginya identik dengan sosok yang tergambar dalam manuskrip Codex Gigas. Jauh lebih gampang ketimbang mengidentifikasi sosok tersebut sebagai lambang banteng.

Benar tidaknya kesan yang muncul tentu berpulang pada pemahaman Risma terhadap sosok ‘pendampingnya’ itu. Namun faktanya, jalan Tri Rismaharini menuju kursi walikota dalam Pilkada Kota Surabaya 2015 kembali terbentur. Jadi, jangan menafikan ‘tangan Allah’ dalam perkara sulitnya Risma kembali menjadi Walikota Surabaya. Wallahu a’lam bish-shawabi...

Komentar