Ke mana 'cermin kejujuran dan ketegasan' Risma?

Tri Rismaharini, calon kuat Walikota Surabaya versi Pilkada Serentak 2015.

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://kanalsatu.com/images/20150819-33419_151.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 404 Not Found

Filename: models/post_model.php

Line Number: 248

KANALSATU - Soal kualitas sebagai pemimpin Kota Surabaya, tidak banyak yang meragukan kemampuan perempuan satu ini. Sederet prestasi dan penghargaan, meski diragukan kredibilitas pemberinya, menghiasi masa kepemimpinan Tri Rismaharini selama lima tahun terakhir. Namun, sikap ‘diamnya’ pada proses tahapan pendaftaran pemilihan kepala daerah (pilkada) 2015, sungguh mengherankan.

Tri Rismaharini adalah fenomena Kota Surabaya. Kiprahnya selama menjadi ‘ibu’ bagi sekitar 2,9 juta jiwa warga kota (data Dispendukcapil Pemkot Surabaya pada 18 Agustus 2015 pukul 23.35 WIB), menjadi jaminannya untuk kembali memimpin pada periode kedua. Memenangi Pilkada Kota Surabaya adalah sebuah keniscayaan bagi Tri Rismaharini.

Jangankan mencari ‘rival sepadan’ di pilkada serentak yang dijadual digelar Desember 2015, menemukan lawan saja sulitnya setengah mati. Beberapa nama yang sempat digadang-gadang akhirnya mundur teratur. Tudingan yang muncul, calon lawan mundur teratur, tak berani menghadapi Risma, sapaan akrabnya.

Sosok pemimpin jujur

Hegemoni Risma memang luar biasa. Pujian tak datang dari warganya, melainkan dari seantero penjuru Indonesia. Memuji dan berharap pimpinan kotanya sebaik Risma. Dalam hal pemilihan kepala daerah, sampai-sampai muncul anekdot di kalangan warga Kota Surabaya, “Dipasangkan dengan siapa saja, Risma tak bakal kalah.” atau “Risma gak perlu kampanye sudah pasti memenangi pilkada. Jadi walikota lagi.”

Bisa jadi melambungnya nama Risma berkat ‘pengenalan erat’ warga kota yang menilai perempuan kelahiran Kediri, 20 November 1961 itu sebagai sosok yang jujur, tidak mudah ‘ditekuk’ untuk urusan yang melanggar aturan dan ketegasannya menolak ketidakbenaran, meski hanya persoalan administratif.

Prestasi fenomenal Risma sejatinya hanya ditopang kesuksesannya menata kota menjadi tampak lebih indah melalui taman-taman kota. Diantaranya adalah pemugaran Taman Bungkul berkonsep all-in-one entertainment park, Taman Pelangi di Bundaran Dolog, Taman Buah di ujung Selatan jalan Undaan dan Taman Manula di jalan Sulawesi.

Juga beberapa taman lainnya yang dulunya mati, kini nyaris dipenuhi warga kota setiap malam. Catatan prestasinya dilengkapi pembangunan jalur pedestrian dengan konsep moderen di sepanjang jalan Basuki Rahmat, jalan Tunjungan, jalan Blauran, jalan Panglima Sudirman hingga merambah kawasan lain.

Prestasi yang memang bisa dirasakan langsung warga kota, meski konsep dan pengerjaannya sudah diawali Walikota Bambang DH. Saat Risma masih menjadi anak buah Bambang DH dan dipercaya menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (2005) hingga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Pemkot Surabaya (2008).

Sayangnya, prestasi ‘membangun Kota Surabaya’ menjadi hijau, faktanya tidak diiringi sukses di sektor lainnya. Pada sektor infrastruktur, misalnya, Risma sangat jelas berjanji kepada masyarakat Surabaya saat kampanye pada Pilkada 2010 untuk mengurangi kawasan banjir. Namun faktanya, setiap musim hujan, banjir tidak makin mengecil, tapi justru tambah meluas.

Proyek pedestrian dan drainase yang sudah dibangun di sebagian besar kota terbukti belum mampu menekan banjir. Padahal, alokasi dana APBD sangat besar untuk proyek-proyek tersebut. Ini menjadi bukti, penataan infrastruktur pengurang banjir tidak tepat dan tidak efektif. Jika ditarik garis agak panjang, tentu sangat terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan proyek-proyek tersebut.

Pada bozem Morokrembangan, misalnya, Pemkot Surabaya hampir tidak pernah melakukan aksi serius, seperti pengerukan dan revitalisasi fungsi. Padahal banyak pakar perencana kota mengatakan, jika bozem itu dikeruk sedalam tiga meter saja, maka banjir di kawasan bawah, khususnya kawasan Petemon akan terhindar dari banjir tahunan.

Dari aspek perekonomian, Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan, sangat berkembang pesat sejak dahulu dan perputaran bisnisnya mengontribusi produk domestik bruto (PDRB) Surabaya sangat besar. Namun, potensi itu menjadi naif ketika spending APBD tidak banyak dilokasikan untuk mendorong sektor-sektor tersebut. Industri menengah - besar di Surabaya berkembang secara mandiri, sementara infrastruktur untuk menunjang kegiatan bisnis tersebut tidak pernah berubah secara signifikan.

Padahal, masuknya industri ke Surabaya lebih dikarenakan keberadaan Pelabuhan Tanjung Perak yang dikelola PT Pelindo III. Sayangnya Pemkot Surabaya justru tidak membangun komunikasi yang baik dengan pengelola pelabuhan, khususnya supported policy terhadap jalan di sekitar wilayah pelabuhan yang kini kondisinya sangat crowded.

Pada pengembangan pelabuhan Teluk Lamong yang dilakukan Pelindo III, misalnya, Pemkot Surabaya justru tidak memberikan izin bagi akses pembangunan fly over untuk keluar-masuk Pelabuhan Teluk Lamong di Osowilangun. Kebijakan itu justru kontra-produktif dengan keberadaan industri yang notabene banyak menyumbang PDRB Surabaya.

Namun, warga kota, faktanya terlanjur ‘cinta’ dengan Risma. Apapun yang terjadi, lulusan 1987 Jurusan Arsitektur Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya itu sudah menjadi jaminan kemajuan Kota Surabaya. Kejujuran, nampaknya memang menjadi modal besar Risma meraih kepercayaan warga kota.

Bahkan, respons dan sikapnya yang meledak tak terkontrol, saat mengetahui ‘taman kotanya’ di kawasan Taman Bungkul dan Jalan Raya Darmo rusak terinjak warga kota, justru mendapat sikap permisif. Padahal, kalimat kotor ketika mendamprat seorang panitia penyelenggara acara yang memicu kerusakan taman kota itu, tidak sepantasnya muncul dari bibir seorang ‘ibu terbaik’. Pokoknya, tak ada sisi negatif dari seorang perempuan bernama Risma.

Diam seribu basa

Hanya saja, mungkin tidak banyak yang sadar, langkah dan tindakan Risma dalam proses tahapan Pilkada Kota Surabaya 2015 sangat aneh. Bertolak belakang dengan stigma positif yang selama ini sudah bersemayam di dada sebagian warga Kota Surabaya. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, Risma telah berubah total. Kejujurannya pada persoalan administrasi dan keluguannya di bidang politik tidak nampak saat mendaftar menjadi calon peserta pilkada serentak tahap pertama.

Peraih gelar doktor honoris causa ITS di bidang Manajemen Pembangunan Kota di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan itu kini hanya diam seribu basa tatkala tahapan pendaftaran pasangan calon kepala daerah memunculkan polemik akibat pelanggaran aturan. Inilah yang berbeda dengan Risma pada Pilkada Kota Surabaya 2015.

Perubahan sikap teramat drastis yang aneh, mengingat Risma pernah mengungkapkan sikap tegas saat menolak pemilihan dan pelantikan Wisnu Sakti Buana menjadi wakilnya menggantikan Bambang DH. Kediamannya pada ‘pelanggaran’ pendaftaran Pilkada Kota Surabaya 2015 memunculkan sejuta keheranan. Tak sedikit kalangan yang menyebut Risma kini tak lagi selugu, sejujur dan setegas dulu.

Dulu berseteru kini bersatu untuk Pilkada Serentak 2015.

Padahal, sangat jelas, proses administrasi calon lawannya begitu terbuka melanggar Peraturan KPU. Sejumlah berkas pendaftaran milik pasangan calon kepala daerah Rasiyo-Dhimam Abror Djuraid yang menjadi syarat mutlak tidak sesuai Peraturan KPU. Seharusnya, ketiadaan surat asli rekomendasi dari DPP PAN sudah membatalkan tekad Rasiyo-Abror menantang pasangan petahana Risma-Wisnu yang diusung PDI Perjuangan.

Dan Risma bukan orang bodoh untuk mengetahui ‘kecurangan’ itu. Juga bukan perempuan yang hanya diam seribu basa melihat perilaku tidak baik. Sebuah sikap amat bertolak belakang dengan yang pernah ditunjukkannya saat Wisnu melenggang ke balai kota menjadi wakil walikota, tanpa melewati prosedur atau administrasi semestinya.

Buah sikap tegas ‘melawan pelanggar aturan’ bahkan sempat ditunjukkannya dengan ‘mengancam’ mengundurkan diri sebagai Walikota Surabaya. Ketegasan yang diikuti pernyataan tak ingin lagi maju dalam Pilkada 2015. Dalam acara ITS Expo, April 2014, Risma sempat mengungkap keinginan menjadi staf pengajar di almamater seusai menyelesaikan pengabdian sebagai Walikota Surabaya pada 2015.

Pemimpin yang disebut-sebut sangat ‘dicintai’ warganya itu kini seakan lenyap ‘ditelan bumi’ saat proses tahapan pilkada ‘dikangkangi’ pelanggaran terhadap aturan, produk hukum dijamin negara. Padahal, dengan ‘segudang prestasi’ dan tingginya elektabilitas, Risma tidak sepatutnya ‘takut’ atau ‘kuatir’ bakal ‘ngglundung’ (kalah) kendati pilkada digelar 2017.

Bukan tidak mungkin, sikap jujur, lugu dan ketegasannya menolak proses pendaftaran Rasiyo-Abror serta bersikap sabar menanti pengunduran jadual hingga 2017 sebenarnya justru kian menguati stigma sebagai seorang pemimpin yang amanah. Makin melambungkan nama dan peluangnya dipilih pada Pilkada 2017.

Sisi negatif munculnya pasangan Rasiyo-Abror atau pasangan sebelumnya yang akhirnya batal Abror-Haries Purwoko sudah berujung pada dugaan politik tak sehat. Pilkada Kota Surabaya sudah dituding memunculkan calon ‘boneka’. Lawan politik dalam perebutan kursi walikota yang sengaja ‘tampil’ hanya untuk mengalah pada Risma. Rival yang tugasnya hanya sebagai pelengkap pilkada.

Jika sudah begitu, apa yang bisa dibanggakan Risma sekalipun memenangi Pilkada 2015 yang penuh pemaksaan kehendak. Untuk memenangi perebutan kekuasaan, Risma seharusnya bercermin sikap yang dulu diambilnya, mati-matian menolak, bahkan dengan alasan takut pada murka Allah?(win10)

Komentar