Meminimalisir kekerasan pada anak

Oleh: Kompol Nasrun Pasaribu

Kompol Nasrun Pasaribu, Pasis Sespimmen Polri Dikreg ke 55/2015.

Kekerasan pada anak adalah perilaku secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak. Tindakan ini memiliki dampak yang luar biasa. Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi.

Ada juga yang menjadikan anak sangat pasif dan apatis, serta tidak mempunyai kepibadian sendiri. Kemudian ada pula yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan timbul rasa benci pada anak yang luar biasa terhadap dirinya sendiri.

Selain psikis, kekerasan anak pun kerap menimbulkan kerusakan fisik. Seperti perkembangan tubuh kurang normal dan rusaknya sistem syaraf. Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari.

Sejauh ini, masih belum ada cara yang benar-benar efektif untuk menangani dan mencegah terjadinya tindak kekerasan anak. Sebaliknya, hampir semua tempat sangat memungkinkan terjadinya kekerasan pada anak. Begitu pula dengan perilaku keluarga dan tontonan televisi yang dapat memicu terjadinya kekerasan pada anak.

Dimulai dari keluarga. Orang tua yang kerap bertengkar di depan anak-anaknya dapat memicu perilaku kasar. seorang anak yang menyaksikan pertengkaran tersebut akan beranggapan bahwa kekerasan adalah hal wajar.

Pola asuh juga dapat menentukan perilaku anak. Kita sebagai orang tua, wajib memperhatikan dan memenuhi kebutuhan anak. Namun bukan berarti dengan cara memanjakannya secara berlebihan. Sebab hal itu bisa memicu sikap anak ingin menang sendiri, dan cenderung emosional bila keinginannya tidak terpenuhi. Jangka panjangnya, anak menjadi pemarah bahkan cenderung suka melakukan tindak kekerasan.

Bagi orang tua yang memiliki anak di bawah umur, wajib memantau saat menonton tayangan televisi. Acap kali, acara televisi dapat merusak mental dan sikap anak. Seperti tanyangan yang mengumbar kekerasan atau adegan orang dewasa lainnnya. Sehingga para orang tua perlu memberikan bimbingan saat sang buah hati menonton televisi. Bila perlu memberikan pengarahan, mana saja tayangan televisi yang boleh ditonton dan tidak.

Ironisnya, pihak stasiun televisi sendiri kurang memperhatikan jam tayang. Hanya demi meningkatkan rating belaka, pihak stasiun televisi kadang lebih menyuguhkan tayangan yang tidak mendidik. Di satu sisi, tidak semua orang tua bisa memantau terus apa yang disaksikan anaknya di televisi.

Selanjutnya melangkah ke dunia pendidikan. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat mencari ilmu, justru kadang menimbulkan trauma mendalam bagi semua pihak. Sebut saja kasus di Jakarta Internatioal School (JIS), yang menjadi tamparan keras bagi para pendidik, orang tua, pihak sekolah, dan pemerintah. Yang memprihatikan, para pelaku kekerasan di JIS adalah orang-orang yang seharusnya menjaga dan melindungi para siswa, yakni guru dan penjaga sekolah.

Kasus-kasus seperti inilah yang membuat seorang siswa tidak mendapatkan ilmu saat di sekolah, melainkan trauma mendalam. Bukan hanya siswa yang menjadi korban, tetapi juga orang tua atau siapa saja yang mengetahui berita tersebut. Tidak sedikit dari para orang tua yang menjadi was-was saat buah hatinya berada di sekolah, setelah mengetahui adanya kasus-kasus kekerasan pada anak seperti yang terjadi di JIS.

Agar kasus-kasus seperti itu tak kembali terulang, sudah saatnya lembaga pendidikan berinovasi. Misalnya, dengan memasang kamera CCTV di berbagai sudut sekolah. Ini bisa jadi sebuah solusi yang cukup mahal, namun sangat membantu dalam hal pengawasan. Pihak sekolah dapat memantau beberapa lokasi pada saat yang bersamaan.

Upaya lainnya, penekanan pendidikan budi pekerti. Ini bisa menjadi solusi dalam mencegah krisis moral yang melanda kalangan generasi penerus bangsa. Seperti diketahui, pendidikan budi pekerti masih belum merata dan belum benar-benar menjadi mata pelajaran wajib di semua sekolah, meski telah dicanangkan sejak 1994.

Selain itu, sekolah juga harus menggagas aktivitas-aktivitas internal sekolah yang bersifat positif. Serta memfasilitasi aktivitas orang tua dan siswa minimal setahun sekali, seperti yang diterapkan oleh sekolah-sekolah di Jepang. Sekolah juga bisa membentuk petugas “breaktime watch” dari kalangan pengurus sekolah yang bertugas untuk berkeliling dan memantau kegiatan siswa.

Atau bila perlu diberikan pembekalan ilmu beladiri. Selain mengajarkan kepada anak soal kedisiplinan serta membentuk mental dan jasmani yang kuat, bela diri juga dapat digunakan untuk membela diri sendiri dari ancaman-ancaman yang ada. Namun tetap harus diberikan pengarahan bahwa ilmu bela diri dipelajari bukan untuk melakukan kekerasan.

Sudah saatnya semua pihak bergandengan tangan dan bersama-sama menjalankan fungsi sebagaimana mestinya guna mencegah kekerasan pada anak, baik di lingkungan sekitar maupun di lingkungan sekitar. Jangan saling menyalahkan dan hanya diam dalam keprihatinan. Kesuksesan sebuah rencana bisa terwujud bila semua pihak sadar terhadap perannya dan mau peduli serta bertindak.

Moral harus mulai ditanam dari diri kita sendiri dan diajarkan kepada anak-anak. Pendidikan budi pekerti hanyalah sebuah mediasi, namun penerapannya perlu sebuah kesadaran dan kemauan.(*)

Komentar