Menperin: PT NNT diharapkan bisa jadi motor penggerak ekonomi NTB

Lokasi pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara

KANALSATU - Pemerintah berharap perusahaan operator pertambangan asal Amerika Serikat, PT Newmont Nusa Tenggara bisa bertindak menjadi motor penggerak pembangunan di Nusa Tenggara Barat.

Hal itu secara khusus disampaikan oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin  saat kunjungan kerja ke perusahaan tersebut, belum lama ini.

"Semoga Newmont dapat menjadi motor penggerak dalam melaksanakan program-program pembangunan di Provinsi NTB, sebagai bagian dari upaya pembangunan ekonomi nasional," kata Menperin melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (31/5/15).

Lebih dalam pada kesempatan itu, Menperin menyampaikan bahwa pengembangan industri berbasis mineral dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan sumber daya mineral, sehingga industri logam mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan memiliki daya saing di tingkat regional dan internasional.

Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, Kemenperin menargetkan Industri Pengolahan dan Pemurnian Logam Dasar Bukan Besi sebagai salah satu industri prioritas, di antaranya kelompok produk katoda tembaga.

"Untuk meningkatkan nilai ekspor produk logam, pemerintah mendorong peningkatan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri sehingga produk yang diekspor memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor produk mineral hasil pertambangan," ujarnya.

Maka, lanjut Menperin, pemerintah mendorong agar konsentrat tembaga dapat diproses di dalam negeri menjadi katoda tembaga.

Berdasarkan roadmap industri berbasis mineral, target konsumsi tembaga per kapita Indonesia pada tahun 2025 sebesar 5 kg per kapita, maka permintaan produk tembaga adalah sebesar 1,37 juta ton copper cathode dan maka membutuhkan bijih tembaga sebesar 202 juta ton.

UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian juga mengamanatkan pembentukan peraturan pelaksana berupa Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Sumber Daya Alam untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Menurut data Badan Pusat Statistik, pada 2013 dan 2012 nilai ekspor produk industri logam berturut-turut sebesar US$9,7 miliar dan US$10 miliar atau menurun 2,6%.

Sedangkan nilai impor produk industri logam pada periode yang sama sebesar US$21,4 miliar dan US$20,4 miliar atau meningkat 4,9%. (ant/win7)

Komentar