Kecelakaan Sea Raider akibat cuaca buruk

Salah satu Rubber Boat Sea Raider milik TNI AL.

KANALSATU - Komandan Pangkalan Utama TNI AL VII/Kupang Laksamana Pertama Dedy Muhiba Pribadi mengatakan, kecelakaan tenggelam perahu serbu (sea raider) yang menewaskan enam orang di Selat Loekeli, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (11/10/14), karena cuaca buruk.

“Kita tak bisa melawan kehendak alam. Ini karena semata-mata perubahan cuaca secara tiba-tiba. Dari aspek kondisi keamanan dan peralatan lain yang dimiliki salah satu perahu pemburu dan patroli TNI AL itu, dalam kondisi baik dan layak untuk pelayaran,” katanya di Pangkalan Udara TNI AL Penfui, Kota Kupang, Provinsi NTT, Senin (13/10/14).

Namun, tiba-tiba terjadi perubahan cuaca berupa gelombang tinggi dan besar saat berpatroli. Dari aspek keamanan dan peralatan, kapal patroli itu sangatlah aman, nyaman dan sangat mendukung kelaikan pelayaran.

“Peristiwa naas di perairan Selat Loekeli, antara Pulau Ndao dan Pulau Do'o, Kab. Rote Ndao itu tidak bisa dihindari. Dari 12 penumpang ikut dalam kapal patroli itu, enam korban meninggal, meski kapal tersebut dilengkapi baju pelampung. Namun namanya musibah, tidaklah bisa dihindari,” ujarnya.

Dia mengatakan, patroli itu adalah kegiatan rutin bersama aparat keamanan dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk pemantauan dan pengawasan konservasi kawasan perairan nasional. Patroli dikoordinir langsung Kementrian Kelautan dan Perikanan menyertakan personel TNI AL dan armada kapalnya, Satuan Polisi Air Polres Rote Ndao dan tokoh forum adat.

Sea raider biasa dipergunakan pasukan khusus untuk proses infiltrasi dan eksfiltrasi di segala waktu. Berukuran maksimal 12 meter, sea raider dilengkapi GPS, radio komunikasi multi kanal dan senjata ringan hingga 20 milimeter. Kapal itu lumrah dipergunakan pada misi-misi jarak dekat, baik di perairan dangkal atau cukup dalam.

Mesin berbahan bakar bensin dua tak dengan kecepatan dan akselerasi tertinggi sekitar 30 knot per jam. Diperlukan kemahiran dan pengalaman operasional tersendiri untuk bisa mengendalikan sea raider, termasuk mengenal pola arus dan cuaca setempat.

Saat awal aktivitas patroli, kata Dedy Muhiba, cuaca dan alam di sekitar laut Rote Ndao sangat kondusif dan laik untuk pelayaran. Namun setelah beberapa saat berselang, terjadi perubahan cuaca yang juga drastis terjadi. “Saat itu, gelombang tiba-tiba datang dengan ketinggian yang sulit dihindari dan menghantam kapal patroli dan tenggelam.”

Dalam musibah itu, enam dari 12 penumpang meninggal dan enam lainnya berhasil diselamatkan setelah Tim Basarnas Kupang, TNI AL Kupang, Polisi Perairan Polda NTT dan para nelayan, melakukan pencarian hingga Senin (13/10/14). “Semua korban meninggal maupun selamat, sudah ditemukan. Korban terakhir yang ditemukan hari ini adalah Apsuherto Thao dari Kementrian Kelautan dan Perikanan.”

Meski dipicu cuaca buruk, Dedy menegaskan, Kapten Laut Arif selaku Perwira Lanal Rote Ndao sekaligus sebagai nahkoda kapal naas itu akan menjalani proses penyidikan. “Secara internal ada prosedur pemeriksaannya. Semua kejadian tenggelam kapal oleh TNI AL akan menerapkan standar prosedur pemeriksaan yang berlaku.”

Dalam kejadian itu, ada enam penumpang tewas, yaitu Kepala Satuan Kepolisian Perairan Polres Rote Ndao Inspektur Dua Polisi Imanuel Do Hina, anggota Forum Adat Kabupaten Rote Ndao Yos Fanggidae dan staf Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Rote Ndao Demit Kolain. Korban tewas lain adalah anggota Polair Polres Rote Ndao Brigadir Polisi Yupiter N Pah serta staf Konservasi Kawasan Perairan Nasional NTT Widi Multi Haryanto dan Apsuherto Thao.

Sementar, enam korban selamat yakni personel Polair Polres Rote Ndao Brigadir Kepala Polisi Nefriadi B Tallo, staf Dinas Kelautan dan Perikanan Rote Ndao Alex Modok, staf KKPN NTT Ferawati Ratu Ludji, staf Pangkalan TNI AL Rote Ndao Kapten Pelaut Arif, anggota Pangkalan TNI AL Rote Kelasi Didi serta staf KKPN NTT Aprianus Feto.(win10)

Komentar