PG Kremboong ubah ampas tebu jadi listrik

KANALSATU - PG Kremboong Sidoarjo selain menjadi model pengolaan pabrik gula yang lain untuk bisa lebih efisien juga membuat terobosan baru dalam mengolah ampas tebu, selain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar mesin, ampas tebu bisa digunakan untuk memproduksi listrik melalui program cogeneration.

Di seluruh dunia, potensi perolehan ampas mencapai 424 juta ton. Di Indonesia sendiri berkisar 10 juta ton. Satu ton ampas tebu bisa untuk membangkitkan listrik dengan cogeneration sebesar 220-240 KWh.

Direktur Utama PTPN X Subiyono mengatakan di sejumlah negara, cogeneration untuk memproduksi listrik dari ampas tebu sudah dijalankan dengan mengganti boiler bertekanan rendah (7-21 bar) dengan boiler bertekanan tinggi (di atas 80 bar) serta melakukan elektrifikasi pada semua penggerak.

Dengan lahan tebu nasional seluas sekitar 475.000 hektar dan lebih dari 33 juta ton produksi tebu, potensi bisnis listrik dari ampas tebu bisa menembus 3,5-3,8 juta MWH (3.800 GWH)

"Di Brasil, PG-PG yang ada sudah bisa menghasilkan lebih dari 3.000 MW listrik dari cogeneration. Listrik itu digunakan sendiri untuk operasional pabrik. Yang dijual mencapai 506 MW. Di India, kapasitas cogeneration-nya 2.200 MW, dengan daya yang dikomersialkan 1.400 MW," kata Subiyono, Selasa (19/8/14).

Subiyono mengakui, teknologi yang digunakan untuk produksi listrik dari ampas tebu cukup tinggi dan memakan biaya. Namun, berkaca pada sejumlah proyek di Brasil dan Thailand, investasi yang dikucurkan dalam proyek cogeneration dapat kembali melalui pendapatan dari penjualan listrik dalam periode tak lebih dari 5 tahun.

PTPN X sudah mengembangkan program cogeneration di PG Ngadiredjo di Kediri. Pada tahap uji coba, listrik di PG tersebut akan digunakan untuk operasional pabrik dan dijual ke PLN. "Saat ini sedang tahap perizinan, karena produksi listrik memang butuh izin dari pemerintah," ujarnya.

Di PG Ngadiredjo, sambung Subiyono, PTPN X sudah melakukan simulasi investasi untuk mengembangkan cogeneration. Investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 310 miliar dengan perkiraan pengembalian investasi selama 3 tahun. Investasi itu akan digarap secara bertahap.

Menurut Subiyono, saat ini tak bisa lagi industri gula hanya bicara tentang peningkatan produksi gula. Swasembada gula jangan hanya dikerangkai dalam satu konteks pemenuhan produksi gula saja.

“Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sebuah industri berbasis tebu yang terintegrasi. Harus buat terobosan agar bisa hasilkan ampas banyak, produksi listrik, atau produksi bioetanol dari tetes tebu. Tapi ini memang butuh dukungan regulasi pemerintah, agar pengembangan energi terbarukan berbasis tebu bisa dioptimalkan," jelasnya.

PTPN X sendiri adalah perusahaan pergulaan terbesar di Indonesia. Perusahaan pelat merah itu mempunyai 11 PG di Jatim yang tersebar di Sidoarjo, Mojokerto, Kediri, Jombang, Nganjuk, dan Tulungagung.

Dari data yang ada konsumsi bahan bakar fosil (BBM) PTPN X pada 2007 masih Rp130 miliar, kemudian dengan mengoptimalkan ampas tebu bisa dikurangi secara terus-menerus hingga menjadi Rp1,5 miliar pada 2013. "Kami ingin zero BBM. Insya Allah tahun ini atau setidaknya tahun depan," tandas Subiyono.(win8/12)

Komentar