Andi Widjajanto, ahli kajian strategis

Andi Widjajanto

KANALSATU – Dari wajahnya, Andi Widjajanto, masih nampak muda. Kemungkinan masih 40-an tahun. Tidak satupun media yang menulis tentang profilnya, khususnya yang terkait dengan data pribadi. Mungkin karena latar-belakangnya yang merupakan pakar/ahli Kajian Strategis Intelijen dari Universitas Indonesia, sehingga pria yang nota-bene putra dari (Alm) Mayjen TNI Theo Syafei ini tidak banyak mengumbar biodata.

Penampilannya kalem, tidak meledak-ledak, dan perawakannya sedang. Tapi bobot pembicaraannya tidak berukuran sedang. Setiap berbicara, pria berkacamata ini selalu berkualitas dan berisi. Struktur bahasanya tertata rapi meski dalam spontanitas yang tinggi, kajiannya begitu mendalam – tentang apapun, meski  basic keilmuannya adalah Strategic Studies – khususnya terkait dunia intelejen dan pertahanan.

Dosen tetap pada FISIP di Universitas Indonesia itu memiliki hubungan sangat dekat dengan PDIP, sedekat hubungan ayahnya (Theo Syafei) dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Andi, demikian biasa dipanggil, juga memiliki pengaruh kuat di lingkungan internal partai pengusung pasangan capres Joko Widodo – Jusuf Kalla.

Bahkan Marcus Mietzner, peneliti tentang Indonesia dari Australian National University (ANU) menyebut Andi Widjajanto sebagai salah satu figur dan pemikir penting ( di hadapan Megawati) pada pemenangan Jokowi – JK. Banyak konsep kampanye hingga debat capres Jokowi yang merupakan pemikiran orisinil Andi Widjajanto. Kapasitas Andi jauh berlipat-lipat melebihi kapasitas capres yang didukungnya.

Andi Widjajanto memiliki latar-belakakng pendidikan yang luas, mulai dari FISIP jurusan HI di Universitas Indonesia lulus 1996, kemudian juga mendapat gelar sarjana dari School of Oriental dan African Studies Universy of London. Mendapatkan Master of Sciences dari London School of Economics, sekaligus juga dapat  master of sciences dari Industrial College of Armed Forces, Washington DC – USA pada 2003.

Begitu piawainya Andi Widjajanto dalam berdiskusi tentang pertahanan terkait programe capres Jokowi, sampai-sampai Tantowi Yahya (jubir pemenangan pasangan capres Prabowo – Hatta) – pada sesi debat tim sukses capres di TV One-, menyebut Andi layak masuk kabinet Prabowo – Hatta, karena dinilai memiliki kapasitas yang mumpuni.

“Kabinet Prabowo – Hatta akan diisi oleh orang-orang berkualitas tanpa melihat latar-belakakng politiknya. Bahkan orang sekapasitas Andi Wijayanto bisa saja diangkat menjadi menterinya pak Prabowo,  sepanjang maksudnya untuk kekuatan pemerintahan dan kebaikan Indonesia ke depan,” kata Tantowi.

Pernyataan Tantowi ini seolah menunjukkan kedewasaannya dalam berpolitik. membuktikan bahwa Tim Prabowo tidak su’udhzon dalam melihat lawan politik, fair dalam menilai, dan tidak segan mengakui bagian mana yang benar dari lawan politik, bahkan berulang-kali mengakui - beberapa hal yang telah dijalani secara tepat dan benar oleh Pemerintahan SBY.

Meski Andi Widjajanto nampak lebih memahami secara lebih detil pengetahuan tentang wawasan pertahanan – pada sesi debat tim sukses di TV One, namun Tantowi Yahya terkesan lebih matang dan bijak, meski juga cukup menguasai materi diskusi dan strategi berkomunikasi.

Andi Widjajanto adalah ‘darah segar’ bagi PDIP ke depan. Tidak banyak figur di partai bergambar moncong putih sapi itu - yang memiliki kapasitas selevel Andi. Dia cerdas, spontan, komunikatif, dan berbobot dalam setiap tampil sebagai juru bicara tim pemenangan pasangan capres Jokowi – JK, khususnya terkait pertahanan dan alutsista. Maka itu  wajar saja jika pada rumor drfat kabinet Jokowi – JK nama Andi dimasukkan sebagai pejabat Menhan.

Kepiawaian Andi bukan hanya menunjukkan background akademisnya yang bagus, tapi juga mengindikasikan memiliki pengalaman yang luas di bidang terkait ilmu yang ditekuninya. Misalnya Andi pernah tercatat sebagai Koordinator di Gerakan Non Blok Study Center. Juga aktif sebgai peneliti di jurusan HI – FISIP UI. Andi juga tercatat sebagai Dewan Editor pada jurnal politik internasional Global. Pernah juga bekerja sebagai Managing Director di PACIVIS, Center for Global Civil Society Studies Universitas Indonesia hingga jabatan Direktur Eksekutif pada PACIVIS dan Direktur Ekonomi Pertahanan di Institut Pertahanan dan Studi Keamanan - UI.

Widjajanto juga memiliki beberapa keterlibatan komunitas epistemik, misalnya pada 2000 lalu Andi adalah anggota Delegasi Indonesia dalam "ASEAN plus Three Forum Pemimpin Muda '" untuk menyajikan sebuah makalah akademis "The Positif Perdamaian untuk Asia Timur".

Pada tahun 2001 ia menjadi anggota Delegasi Indonesia dalam "1st Majelis Rakyat ASEAN" untuk menciptakan jaringan antar organisasi masyarakat sipil ASEAN. Pada 2001 juga menjadi anggota Delegasi Indonesia dalam "4th ASEAN University Jaringan Forum" untuk menyajikan sebuah makalah akademis "Pembentukan Komunitas Keamanan ASEAN".

Pada tahun 2002 ia menjadi anggota dari Task Force, yang diselenggarakan oleh Science Institute (LIPI) Indonesia, di bawah kerjasama dengan Military College of Indonesia (SESKO TNI) untuk meninjau Doctrin Militer Indonesia. Andi juga menjadi anggota Task Force yang diselenggarakan oleh Studi Pemerintah Daerah (LOGOS), di bawah kerjasama dengan Angkatan Bersenjata Teritorial Kepala Staf (Kaster TNI) untuk memodifikasi Komando Teritorial di Indonesia selama tahun 2001-2002.

Andi juga tercatat sebagai anggota National Security Task Force, yang diselenggarakan oleh Pro Patria untuk merumuskan Polri Bill, Bill Pertahanan, Angkatan Bersenjata Bill, dan Strategic Defense Review selama 2001-2002. Selama tahun-tahun itu juga, Widjajanto menjadi seorang peneliti di Institut Penelitian Untuk Demokrasi dan Perdamaian (RIDEP) guna menganalisis dan publisharticles pada dinamika keamanan saat ini di Asia Tenggara.

Andi kemudian kembali menjadi anggota dari Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Sektor Keamanan, yang diselenggarakan oleh Pro Patria untuk meninjau Strategi Keamanan Nasional Indonesia tahun 2003-2006. Selama 2005-2006 ia menjadi anggota pada Kelompok Kerja Indonesia di Militer Restrukturisasi Bisnis, diselenggarakan oleh Indonesia Institute. untuk merumuskan rekomendasi kebijakan untuk restrukturisasi bisnis militer di Indonesia.

Andi juga menjadi Koordinator proyek dan Fasilitator Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Intelijen, yang diselenggarakan oleh PACIVIS selama 2005-2006 terkait rumusan RUU Intelijen Nasional. Pernah juga menjadi dosen di SESKO TNI (Staf Militer dan Komando Tinggi) untuk melakukan postur pertahanan dan Strategis Kepemimpinan Modul.

Pada tahun 2006, Mr Widjajanto menjadi anggota Tim Penelitian "Sistem Pertahanan Nasional Project" yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, DEPARTEMEN Hukum Dan Perundang-Undangan untuk meninjau Sistem Pertahanan Nasional Indonesia. Pada tahun itu juga, ia menjadi anggota Delegasi Indonesia dalam "ke-3 Malaysia-Indonesia Colluqioum", yang diselenggarakan oleh ISIS-Malaysia dan CSIS-Jakarta, Kuala Lumpur, Malaysia, 17-20 Juli 2006.

Juga merumuskan rekomendasi kebijakan pada peningkatan Indonesia- hubungan bilateral Malaysia. Andi menjadi anggota Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Sektor Keamanan, yang diselenggarakan oleh Pro Patria untuk merumuskan RUU Keamanan Nasional selama 2006-2007. Selama tahun-tahun ia menjadi anggota dari DoD Task Force for Strategic Defense Review 2006-2007 untuk merumuskan Strategic Defense Review 2007.

Pada tahun 2007 ia menjadi anggota dari Tim Penelitian "Politik Kebijakan Keamanan Nasional" yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, DEPARTEMEN Hukum Dan Perundang-Undangan untuk merumuskan rekomendasi kebijakan untuk membangun sistem keamanan nasional Indonesia; dosen di Sekolah Strategi Perang Semesta, SESKOAD (Angkatan Darat Sekolah Staf dan Komando) untuk mengkoordinasikan aa kuliah tentang Modul postur pertahanan Indonesia; dan anggota DoD Task Force for Defense White Paper 2007 untuk merumuskan Defense White Paper di Indonesia 2007.

Pada 2008 Andi menjadi anggota pada Kelompok Kerja Indonesia di Militer Restrukturisasi Bisnis, diselenggarakan oleh Indonesia Institute untuk merumuskan rekomendasi kebijakan untuk restrukturisasi bisnis militer di Indonesia; dan kemudi panitia Seminar Nasional Sistem Pertahanan Nasional Abad 21, yang diselenggarakan oleh SESKOAD, TNI-AD untuk merumuskan rekomendasi kebijakan sistem pertahanan nasional untuk abad ke-21.(win1)

Komentar