Diduga pesanan, Satpol PP Surabaya "preteli" banner Prabowo

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://kanalsatu.com/images/20140623-205121_49.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 404 Not Found

Filename: models/post_model.php

Line Number: 248

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://kanalsatu.com/images/20140623-205121_491.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.0 404 Not Found

Filename: models/post_model.php

Line Number: 248

KANALSATU - Salah satu Tim Pemenangan Capres-Cawapres Prabowo-Hatta Jawa Timur, La Nyalla Academia protes keras melihat ribuan alat peraga berbentuk banner gambar Prabowo-Hatta dicopot secara paksa di sejumlah wilayah Jatim.

Hal itu diketahui dalam seminggu terakhir oleh para relawan La Nyalla Academia untuk Prabowo-Hatta. Tak hanya sekali dipreteli oleh oknum Satpol PP Surabaya, dari penelusuran relawan Prabowo-Hatta mengungkapkan bahwa aksi pencopotan alat peraga kampanye ini dilakukan sebanyak tiga kali dalam waktu seminggu terakhir.

"Kecurigaan kami berawal dari hilangnya banner Prabowo-Hatta yang telah kami pasang di beberapa wilayah di Surabaya. Padahal dalam seminggu kami sudah tiga kali memasang banner. Setelah kami selidiki dan dipantau langsung, ternyata banner kami dicopot dan diganti dengan gambar Jokowi-JK," ungkap Agus Muslim, Direktur La Nyalla Academia Senin (23/6/2014).

Dia menjelaskan temuan itu ternyata tak hanya terjadi di Surabaya, namun pencopotan banner pasangan urut nomor 1 itu juga terjadi di Blitar dan Malang. "Kalau ditotal jumlah banner Prabowo-Hatta di Surabaya yang dicopot sekitar 1.200. Sedangkan untuk Malang dan Blitar 4.000 banner. Kami meyakini itu bukanlah oknum PDIP (partai pengusung Jokowi-JK) tapi pihak lain yang ingin mengadu domba di Pilpres ini," cetusnya.

Di Surabaya, banner Prabowo-Hatta yang dicopot ada di beberapa titik, seperti di Jalan Kertajaya, Manyar Kertoadi, Ngagel, Darmokali, Marmoyo, Kutai, Ciliwung dan Jemursari.

Menanggapi hal tersebut, pihaknya sudah melaporkan kejadian pencopotan alat peraga kampanye Pilpres 2014 itu kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jatim. Saat ditanya apakah Satpol PP menurunkan banner atas rekomendasi Bawaslu, Agus menyatakan perintah itu bukan dari perintah Bawaslu maupun Panwaslu.

Selain ke Bawaslu, pihak La Nyalla Academia juga sudah melakukan konfirmasi kepada Satpol PP Surabaya. Bahkan, Irfan Widyanto, Kepala Satpol PP Surabaya menyatakan bahwa pencopotan itu atas perintahnya, karena merusak keindahan kota dan tak ada izin pemasangan dari pihaknya.

"Kami sudah minta keterangang langsung dari Satpol PP Surabaya, mereka pakai alasan banyaknya banner merusak keindahan kota. Oke kalau toh memang aturannya seperti itu, secara keseluruhan kan harusnya dilepas, namun ini yg dilepas hanya banner Prabowo-Hatta," ujar dia.

Pihaknya menduga Satpol PP Kota Surabaya mendapat perintah dari atasnnya dalam kejadian ini. Satpol PP, lanjutnya, pasti paham aturan soal penataan banner/spanduk dan tak mungkin melanggar aturan apalagi ini masih memasuki masa kampanye Pilpres 2014.

"Kita minta Bu Risma (Walikota Surabaya dari PDIP) menjelaskan pencopotan banner Prabowo-Hatta secara paksa di banyak titik di Surabaya. Kenapa hanya punya kita, sedangkan milik pasangan Jokowi-JK tidak ikut dicopot," imbuhnya dengan nada tinggi.(win16/12)

Komentar